Jika kita menyaksikan peristiwa yang terjadi pada zaman Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as, ketika beliau mendatangi para jamaah haji, maka kita akan menyaksikan, kita tidak akan menemukan banyak orang yang menjalankan hajinya dengan benar. Secara lahir mereka berwajah manusia, namun batin mereka binatang. Sangat sedikit manusia yang lahir dan batinnya benar-benar manusia. Sebab, mereka mempunyai tujuan lain kepada selain Allah. Oleh sebab itu kita harus takut ketika tirai-tirai dibuka dan wujud sebenarnya dari setiap orang akan ditampakkan diantara teman-temannya. Mereka akan menyaksikan dirinya sendiri dengan wajah yang sifatnya sama dengan binatang dan karena malu mereka akan menundukkan kepala.
Kebanyakan orang-orang yang ketika membaca al-Qur'an dilakukan dengan sombong. Orang-orang ini akan secepatnya mengkhatamkan al-Qur'an dalam satu hari dan menganggapnya sebagai salah satu kesempurnaannya. Padahal ketika membaca al-Qur'an hatinya sibuk dengan bisikan-bisikan iblis. Sekelompok orang lainnya yang sombong karena shalat malam atau mandi setiap hari jumat atau membaca wirid, doa-doa dzikir usai shalat, dan amalan lainnya. Dia menganggap dirinya sebagai orang yang zuhud tetapi kebanyakan amal perbuatannya adalah untuk menarik perhatian orang lain dan sama sekali tidak ada tujuan kepada Allah.
Kelompok lain yang terjerembab dalam penyakit sombong adalah ahli tasawuf dan darwish. Mereka diumpamakan sebagai gelapnya dunia. Padahal mereka tidak mengenal agama Allah dan Rasulullah. Mereka habiskan usia untuk meminta-minta kepada orang lain dan nama sufi dilekatnya untuk dirinya. Sebagia kelompok ini berdandan ala sufi dan mengenakan pakaian yang memalukan dan menari dengan tarian sufi. Padahal mereka tidak mengenal sedikitpun tentang hakikat tauhid dan kecintaan kepada Allah.
Sebagian kelompok orang-orang sombong, mereka berlepas tangan kepada syariat dan menganggap dasar-dasar agama dan bangsa telah hancur dan menginjak-injak hukum Allah. Mereka tidak mengetahui halal dan haram dan tidak pandang bulu dalam mendapatkan harta. Mereka berfikir itu semua mereka dapatkan dengan usaha mereka sendiri dan tidak mendapatkan apa-apa jika mendekat kepada Allah. Mereka berdalih kenapa mereka tidak perlu beribadah kepada-Nya. Sesungguhnya mereka salah besar. Pada hakikatnya Allah tidak memerlukan ibadah kita. Kita beribadah kepada Allah demi meningkatkan derajat kemanusiaan kita. Maka kita akan seperti berenang di sungai sehingga kita sampai ke hulu sungai yang tenang.
Sekelompok lainnya dari orang-orang sombong adalah para sultan, para penguasa, dan pemilik kekuasaan. Dalam memerintah dan memberikan larangan, kesombongan mereka sangatlah banyak dan mereka tertipu dengan hal ini, yang kepadanya dikatakan mereka adalah penguasa yang adil dan punya nama yang baik. Orang adil harus jelas dalam perbuatan, bukannya sekedar mendapatkan pujian dari orang-orang yang berada di sekitarnya.
Sumber dari buku Semalam Bersama Setan.
Oleh Alieh Hamedani.
Kamis, 10 Januari 2013
TUJUAN BELAJAR
Mereka adalah sekelompok orang yang umurnya dihabiskan untuk mencari ilmu dan sebagian besar waktunya untuk mengkaji ilmu sastra. Dan setiap hari mereka mengutarakan pendapatnya. Sebagian dari golongan ini mempelajari istilah-istilah fiqih dalam waktu yang lama sekali dan sebagian besar dari umurnya dihabiskan untuk belajar kemungkinan-kemungkinan istilah-istilah penentang agama, yang tidak bermanfaat bagi urusan dunia dan akhirat. Sebagian yang lain menghabiskan waktunya untuk belajar ilmu syaraf, nahwu, istilah dan definisi, syair dan logika. Mereka semua menyangka dengan mempelajari ilmu-ilmu tersebut dapat mengetahui seluruh ilmu tentang Allah. Sesungguhnya belajar semua bidang tidaklah sebuah kesalahan, tetapi tujuannya harus untuk mengenal Allah. Sedangkan orang-orang tersebut diatas mereka tenggelam dalam belajar, sehingga mereka melupakan tujuan dasarnya dan mereka bangga dalam hal ini sehingga terperdaya oleh iblis dan dengan kesombongan dalam hatinya yang telah terkungkung dalam cengkeraman iblis, maka mereka tidak akan mendapatkan teman kecuali ilmu dan kesempurnaan iblis.
Aku membaca dalam sebuah buku bahwa Nabi Isa as mengumpamakan para ulama yang sesat seperti sebuah batu yang jatuh dalam aliran air. Mereka tidak bisa meminum air dan tidak bisa mengalir. Padahal air akan menyampaikannya kepada hamba-hamba Allah yang benar.
WAS-WAS DALAM PELARIAN AHLI IBADAH.
Kelompok orang-orang sombong yang lain dari ahli ibadah adalah orang yang was-was dalam menghilangkan najis dan tidak gampang menyangka suci sesuatu dan selalu menyangka sesuatu yang jauh sekali. Tetapi orang-orang itu jika terdesak atau merasa lapar, maka mereka akan menghalalkan segala sesuatu, sehingga menguntungkan dirinya dan memakan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah tanpa kecuali.
Sebagian orang kadang-kadang tertimpa penyakit was-was dan terlalu banyak membuang air. Oleh sebab itu, mereka menganggap segala sesuatu tidak suci. Padahal jika mereka membuka mata hatinya, mereka akan melihat bahwa setanlah yang menungganginya, sehingga tidak membiarkan mereka mempunyai niat yang benar dalam shalat, wudhu, dan ibadah lain. Sebagian yang lain tertimpa penyakit was-was ini dalam bacaan-bacaan shalat. Mereka terlihat membaca bacaan dalam shalat. Tetapi mereka menghancurkan pondasi shalat itu sendiri. Mereka tidak mengerti apa yang mereka kerjakan dalam shalat.
Dan kelompok lain adalah orang yang puasa tetapi sombong dan berbangga diri. Orang-orang ini berpuasa di bulan-bulan mulia, tetapi mulutnya tidak dijaga dari membicarakan orang lain. Mereka hanya mengetahui bahwa tujuan puasa adalah menahan rasa lapar saja dan jauh dari tujuan puasa yang sebenarnya. Sekelompok orang lain pergi untuk menunaikan ibadah haji dan ziarah. Padahal banyak hak-hak orang lain berada dalam hartanya itu. Mereka tidak memberikannya kepada yang berhak malah digunakan untuk perjalanan haji dan ziarah. Mereka berfikir jika dalam jalan ini mereka meninggal, maka akan menyusahkannya. Jika sesuatu yang haram mereka lakukan dengan hati yang kotor, maka kemudian mereka mendatangi rumah Allah dan berziarah ke makam suci Rasulullah SAW dan para imam. Mereka berfikir telah melakukan perbuatan yang baik.
Sumber dari buku Semalam Bersama Setan.
Oleh Alieh Hamedani.
Aku membaca dalam sebuah buku bahwa Nabi Isa as mengumpamakan para ulama yang sesat seperti sebuah batu yang jatuh dalam aliran air. Mereka tidak bisa meminum air dan tidak bisa mengalir. Padahal air akan menyampaikannya kepada hamba-hamba Allah yang benar.
WAS-WAS DALAM PELARIAN AHLI IBADAH.
Kelompok orang-orang sombong yang lain dari ahli ibadah adalah orang yang was-was dalam menghilangkan najis dan tidak gampang menyangka suci sesuatu dan selalu menyangka sesuatu yang jauh sekali. Tetapi orang-orang itu jika terdesak atau merasa lapar, maka mereka akan menghalalkan segala sesuatu, sehingga menguntungkan dirinya dan memakan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah tanpa kecuali.
Sebagian orang kadang-kadang tertimpa penyakit was-was dan terlalu banyak membuang air. Oleh sebab itu, mereka menganggap segala sesuatu tidak suci. Padahal jika mereka membuka mata hatinya, mereka akan melihat bahwa setanlah yang menungganginya, sehingga tidak membiarkan mereka mempunyai niat yang benar dalam shalat, wudhu, dan ibadah lain. Sebagian yang lain tertimpa penyakit was-was ini dalam bacaan-bacaan shalat. Mereka terlihat membaca bacaan dalam shalat. Tetapi mereka menghancurkan pondasi shalat itu sendiri. Mereka tidak mengerti apa yang mereka kerjakan dalam shalat.
Dan kelompok lain adalah orang yang puasa tetapi sombong dan berbangga diri. Orang-orang ini berpuasa di bulan-bulan mulia, tetapi mulutnya tidak dijaga dari membicarakan orang lain. Mereka hanya mengetahui bahwa tujuan puasa adalah menahan rasa lapar saja dan jauh dari tujuan puasa yang sebenarnya. Sekelompok orang lain pergi untuk menunaikan ibadah haji dan ziarah. Padahal banyak hak-hak orang lain berada dalam hartanya itu. Mereka tidak memberikannya kepada yang berhak malah digunakan untuk perjalanan haji dan ziarah. Mereka berfikir jika dalam jalan ini mereka meninggal, maka akan menyusahkannya. Jika sesuatu yang haram mereka lakukan dengan hati yang kotor, maka kemudian mereka mendatangi rumah Allah dan berziarah ke makam suci Rasulullah SAW dan para imam. Mereka berfikir telah melakukan perbuatan yang baik.
Sumber dari buku Semalam Bersama Setan.
Oleh Alieh Hamedani.
SETAN DAN IRI HATI ORANG YANG BERILMU
Aku menambahkan, "kelompok lain orang yang iri dan lalai adalah orang-orang yang berilmu. Kelompok ini adalah kaum paling iri dan dengki. Keyakinan orang-orang ini seperti seutas tali yang berayun-ayun ketika diterpa angin. Kadang-kadang ke kanan dan kadang-kadang ke kiri. Mereka mengetahui banyak sekali bidang ilmu, tetapi tersesat dalam mengenal Allah SWT. Walaupun mereka berfikir bahwa tidak ada yang lebih mengenal Allah dari mereka dan tidak ada yang mengetahui sifat-Nya dan merekapun mengharap pahala, tetapi dalam khayala rusak mempunyai sifat iri dan termakan tipu daya setan. Setan menyesatkan kelompok ini dengan cara ketika mereka memberikan pelajaran setengah dari pandangan iblis hilang dan salah satu dari temannya menjadi antek-antek iblis."
FATWA SETAN.
"Salah seorang ulama ahli ilmu yang merupakan salah seorang dosen di al-azhar, sebuah universitas di Mesir, mengeluarkan fatwa aneh hasi bisikan setan terkutuk, yang menyesatkan ulama tersebut dan menjadikannya sebagai alat iblis. Dr. Izzat Athiyah mengeluarkan fatwa sebagai berikut, 'Demi menghilangkan persoalan syariat antara pria dan wanita, para pekerja wanita diperbolehkan menyusui teman kerja prianya.' Fatwa ini menggemparkan kaum akademisi di Mesir. Kemudian Dr. Izzat Athiyah mendapat kritikan dan serangan dari Dewan Tinggi al-Azhar. Selain mengecam fatwa tersebut, mereka meminta Direktur al-Azhar supaya memecatnya dari universitas tersebut. Karena fatwanya bertentangan dengan norma-norma agama Islam, moralitas, dan ajaran-ajaran Islam."
Iblis berkata, "Dr. Izzat Athiyah adalah salah seorang ulama terbelakang dan mempunyai sifat iri hati. Dia adalah seorang tawananku dan korban rayuanku. Dia bergabung denganku untuk menyesatkan kaum muslimin. Aku ajarkan fatwa ini kepadanya. Dan fatwa ini adalah salah satu senjata terbaik yang dengannya ada kemungkinan sekelompok orang menjadi tersesat dengan mengikuti fatwa ini. Fatwa sesat tersebut akan menyebabkan kesesatan para generasi muda. Sekelompok orang yang tengah menunggu kesempatan untuk menyimpangkan agama Islam, mendapatkan peluang ini. Dengan demikian, aku telah membagi garis kesesatan dalam sejarah aqidah muslimin, sehingga jalan sesat selalu menyertai orang-orang yang sesat."
Aku berkata, "Golongan ulama ini tidak mengenal Allah dan selalu bergelut dengan kebodohan dan iri hati. Mereka adalah anak didik iblis. Mereka belajar dikelasnya dan lulus ujian dari kelas tersebut. Mereka tidak lain adalah sahabat khusus iblis, yang dengan perintah-perintah iblis dapat menyesatkan orang dan akan menyertainya sampai kejatuhannya kedalam api neraka."
Sumber dari buku Semalam Bersama Setan.
Oleh Alieh Hamedani.
Sumber dari buku Semalam Bersama Setan.
Oleh Alieh Hamedani.
PERAN SETAN DALAM MENGGAGALKAN NIAT
Diantara manusia terdapat sekelompok orang yang diancam setan untuk mengerjakan sesuatu yang melanggar dan memaksa mereka untuk melakukan perbuatan buruk. Padahal mereka berfikir tengah melakukan perbuatan ibadah dan mereka mengharapkan pahala dari Allah dan mereka menganggap dirinya layak mendapatkan ampunan Allah. Contohnya dengan kezaliman mereka merampas harta orang lain, kemudian memberikannya kepada fakir miskin, atau membuat jembatan atau sekolahan, atau mewajibkan orang lain mengeluarkan hartanya untuk mereka bagikan kepada orang lain atau dengan uang tersebut membuat bangunan. Tapi poin terpenting adalah bahwa mereka sama sekali tidak berfikir, apakah harta yang diambil tersebut mendapatkan keridhaan pemiliknya atau tidak?
Setan memandangku dengan pandangan mendalam, seperti tengah membaca pikiraku dan dengan tersenyum dia berkata, "dalam menyesatkan manusia semacam ini ada point yang sangat halus, bahwa untuk mendapatkan kebutuhan semacam itu, banyak sekali jalan yang bisa ditempuh. Engkau sendiri berkali-kali telah bekerja untukku dalam hal ini dan tertipu dengan perbuatan ini. Tujuanku dalam mengambil bantuan-bantuan semacam ini adalah merupakan kesempatan untuk merusakkan niat seseorang dengan perantara membangun berbagai tempat uang dan bantuan-bantuan harta, dan akan ditarik uang dari mereka, sedangkan mereka tidak memberikan uang dengan keikhlasan dan bahkan diambil secara paksa dan dalam kondisi sulit dan terkadang juga dikarenakan status sosial, supaya diaantara orang lain terkenal sebagai seorang yang baik dan dermawan, maka dia memberikan uang tersebut. Dan setiap penggunaan uang-uang ini menjadi bermasalah, walaupun diberikan kepada orang miskin."
SETAN IRI TERHADAP IBADAH.
Aku berkata, "kamu selalu menggunakan berbagai cara untuk menyesatkan manusia. Tidak mungkin kamu dapat dipercaya. Misalnya, ada sekelompok orang yang suka beribadah tetapi kamu menyesatkannya.
Orang-orang semacam ini berada dalam genggaman iblis dan mereka banyak sekali berbuat maksiat dan ketaatan yang luar biasa ditunjukkan kepadamu. Tetapi mereka semua lupa, bahwa suatu hari nanti setiap ketaatan yang mereka lakukan akan terjaga dan terekam dihadapan Allah. Misalnya seorang yang pergi Haji sekali dalam seumur hidupnya, atau berziarah ke makam-makam suci, atau pergi ke mesjid tetapi tidak satupun amal ibadahnya yang dilakukan dengan baik, dan tetap menggunjing kesalahan dan cela orang lain. Itu semua mereka lupakan dan amal perbuatan sekali yang dia lakukan selalu diingat-ingat. Mereka berfikir bahwa Allah tidak mungkin menyiksanya, karena merasa dirinya telah menunaikan ibadah Haji. Atau merasa aman dari siksa Ilahi lantaran setiap hari baca ayat al-Qur'an. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui bahwa syarat diterimanya amal perbuatan manusia adalah adanya keikhlasan.
Orang semacam ini adalah orang yang lupa dan melakukan perbuatan seperti perbuatan setan. Orang seperti ini harus mengoreksi perbuatannya dan mengumpulkan semua perbuatannya, sehingga mereka melihat mana yang lebih banyak dan mana diatas timbangan perbuatannya yang lebih berat. Kata-kata mutiara dari Imam Ali bin Abi Thalib as mengatakan, 'telitilah dan hitunglah amal perbuatan kalian sendiri, sebelum amal kalian diteliti dan dihitung.' (Kitab Azrul Hikam wa Darul Kalam).
Sumber dari buku Semalam Bersama Setan.
Oleh Alieh Hamedani.
Sumber dari buku Semalam Bersama Setan.
Oleh Alieh Hamedani.
PERLAKUAN TUHAN TERHADAP MANUSIA
Aku berkata kepada iblis, "perlakuan Allah SWT di dunia ini terhadap orang-orang beriman dengan orang-orang kafir dan fasik sama seperti perlakuan seseorang kepada dua kelompok yang berbeda. Kelompok pertama dicintai dan disayang semaksimal mungkin oleh orang itu. Sedang kelompok kedua, dalam pandangannya bagai duri dan hina. Tentu, akal sehat akan memutuskan, bahwa kelompok pertama harus dicegah dari bermain-main dan perbuatan sia-sia, menempatkannya dalam suatu ruangan, serta tidak memberikan kepada mereka makanan yang lezat (agar tidak lalai dengan tugas dan tanggung jawab). Akan tetapi, kelompok kedua dibiarkan berbuat sekehendak hati mereka. Mereka bebas melakukan apa saja yang mereka sukai. Siang dan malam berlalu tanpa tugas dan pekerjaan penting.
Iblis berkata, "jadi Allah lebih menyukai golongan yang kedua, karena apapun yang diinginkan diberi kepada mereka."
Dengan gusar aku berkata, "kamu keliru, hai iblis. Jika Allah memberikan kepada setiap orang, selagi mulutnya terbuka, maka Allah memberinya, hanya untuk menguji orang-orang seperti ini. Mereka adalah sekumpulan orang yang hanya menginginkan dunia, sebagian akan diberikan nikmat-nikmat Allah kepada mereka dan akan menyaksikan kenikmatan dunia. Sebaliknya Allah SWT juga memperhatikan orang-orang mukmin yang memerlukan, fakir, dan tidak mampu."
Untuk menyesatkan golongan pertama, iblis mendatangi mereka dan mengatakan bahwa Allah memperhatikan kalian secara khusus. Kasih sayang Allah kepadamu tidak dimiliki oleh orang miskin dan fakir itu. Dan bayangan ini muncul dibenaknya, yaitu jika Allah mmeperhatikan orang-orang miskin dan mukmin, maka kehidupan mereka pasti sama dengan kalian. Bisikan-bisikan ini akan terus dia hembuskan bahwa dia juga akan mendapatkan tempat yang layak di akhirat kelak.
Tetapi pada kenyataannya bayangan seperti ini adalah salah dan menyesatkan. Jika kita membuka mata hati ini sama dengan kehinaan dan bahaya, karena dunia dan kelezatannya semuanya membawa kearah kehaancuran, dan akan menyebabkan jauh dari Allah SWT. Allah dalam al-Qur'an berfirman, adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku." Adapun apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata : "Tuhanku menghinakanku." (QS.Al-Fajr:15-16). Dan ini adalah kesesatan yang disebarkan oleh iblis, sehingga orang semacam itu berani berbicara seperti itu dihadapan Allah yang maha pemberi rahmat. Maka kesempatan diberika Allah kepada manusia-manusia seperti ini setiap hari dan mereka akan ditenggelamkan dengan harta dan kekayaan.
Itu semua hanya untuk menguji mereka. Tetapi jika mereka mengingkari nikmat dan berbuat kesalahan, maka bersiap-siaplah menunggu azab Ilahi. Allah dalam al-Qur'an berkenaan dengan orang semacam ini berfirman, "dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan." (QS.Ali-Imron:178).
Sekelompok manusia terperdaya oleh tipuan iblis. Dan setiap dosa yang mungkin dilakukan maka dia akan melakukannya, dengan harapan bahwa Allah adalah maha kasih dan sayang dan akan mengampuni mereka.
Iblis berkata, "aku akan membuat dosa-dosa besar yang mereka lakukan dimata mereka menjadi kecil dan tidak bernilai, sehingga dia tidak lagi memperhatikan dosa-dosanya. Dan supaya mereka berfikir kesalahan-kesalahan dan dosa-dosanya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rahmat Allah yang tanpa batas. Dia akan berharap rahmat Allah. Dengan cara inilah aku menipu mereka, sehingga mereka melakukan berbagai maksiat dan kezaliman."
Aku berkata, "pada dasarnya orang-orang semacam ini adalah orang-orang bodoh yang hanya mengikuti hawa nafsunya belaka dan tidak takut atas amal perbuatannya. Mereka adalah hamba-hamba dari keinginan-keinginan nafsunya. Dalam kondisi seperti ini, apakah mereka akan meminta ampunan dan rahmat dari Allah? Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah dalam Al-qur'an berfirman, 'dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat atom pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.' (QS.Az-Zalzalah:8)
Oleh sebab itu, setiap perbuatan yang baik maupun yang buruk maka akan diberi balasannya oleh Allah. Dan ini adalah keadilan Ilahi yang memberikan kadar pembalasan seberat apa yang diperbuat. Allah dalam al-Qur'an berfirman, 'Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.' (QS.Al-Muddatsir:38)
Iblis berkata, "hai manusia bodoh yang terpedaya, jika kalian memperhatikan dengan perantara tertimpanya sebuah kaum dalam melakukan maksiat, Allah memberikan mereka berbagai azab di dunia. Atau sekumpulan orang yang terkena halilintar dan semuanya binasa atau sekelompok orang yang tenggelam karena badai. Sekecil apapun perbuatan tidak akan bisa disembunyikan dihadapan Allah dan balasan setiap amal perbuatan akan diberikan sesuai dengan tempatnya di dunia maupun di akhirat."
Kita manusia adalah seperti diberikan sepetak lahan sawah, jika disana kita menanam bunga, maka kita akan memanem bunga. Tetapi jika kita menanam duri maka yang akan kita dapatkan adalah duri dan api. Oleh sebab itu, agar kita jangan sampai salah jalan dan tidak tersesat, maka jadikanlah Allah sebagai pelindung kita. "Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, dia akan menjadi penolongnya." (QS.At-Thalaq:3)
Sumber dari buku Semalam Bersama Setan.
Oleh Alieh Hamedani.
Iblis berkata, "jadi Allah lebih menyukai golongan yang kedua, karena apapun yang diinginkan diberi kepada mereka."
Dengan gusar aku berkata, "kamu keliru, hai iblis. Jika Allah memberikan kepada setiap orang, selagi mulutnya terbuka, maka Allah memberinya, hanya untuk menguji orang-orang seperti ini. Mereka adalah sekumpulan orang yang hanya menginginkan dunia, sebagian akan diberikan nikmat-nikmat Allah kepada mereka dan akan menyaksikan kenikmatan dunia. Sebaliknya Allah SWT juga memperhatikan orang-orang mukmin yang memerlukan, fakir, dan tidak mampu."
Untuk menyesatkan golongan pertama, iblis mendatangi mereka dan mengatakan bahwa Allah memperhatikan kalian secara khusus. Kasih sayang Allah kepadamu tidak dimiliki oleh orang miskin dan fakir itu. Dan bayangan ini muncul dibenaknya, yaitu jika Allah mmeperhatikan orang-orang miskin dan mukmin, maka kehidupan mereka pasti sama dengan kalian. Bisikan-bisikan ini akan terus dia hembuskan bahwa dia juga akan mendapatkan tempat yang layak di akhirat kelak.
Tetapi pada kenyataannya bayangan seperti ini adalah salah dan menyesatkan. Jika kita membuka mata hati ini sama dengan kehinaan dan bahaya, karena dunia dan kelezatannya semuanya membawa kearah kehaancuran, dan akan menyebabkan jauh dari Allah SWT. Allah dalam al-Qur'an berfirman, adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku." Adapun apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata : "Tuhanku menghinakanku." (QS.Al-Fajr:15-16). Dan ini adalah kesesatan yang disebarkan oleh iblis, sehingga orang semacam itu berani berbicara seperti itu dihadapan Allah yang maha pemberi rahmat. Maka kesempatan diberika Allah kepada manusia-manusia seperti ini setiap hari dan mereka akan ditenggelamkan dengan harta dan kekayaan.
Itu semua hanya untuk menguji mereka. Tetapi jika mereka mengingkari nikmat dan berbuat kesalahan, maka bersiap-siaplah menunggu azab Ilahi. Allah dalam al-Qur'an berkenaan dengan orang semacam ini berfirman, "dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan." (QS.Ali-Imron:178).
Sekelompok manusia terperdaya oleh tipuan iblis. Dan setiap dosa yang mungkin dilakukan maka dia akan melakukannya, dengan harapan bahwa Allah adalah maha kasih dan sayang dan akan mengampuni mereka.
Iblis berkata, "aku akan membuat dosa-dosa besar yang mereka lakukan dimata mereka menjadi kecil dan tidak bernilai, sehingga dia tidak lagi memperhatikan dosa-dosanya. Dan supaya mereka berfikir kesalahan-kesalahan dan dosa-dosanya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rahmat Allah yang tanpa batas. Dia akan berharap rahmat Allah. Dengan cara inilah aku menipu mereka, sehingga mereka melakukan berbagai maksiat dan kezaliman."
Aku berkata, "pada dasarnya orang-orang semacam ini adalah orang-orang bodoh yang hanya mengikuti hawa nafsunya belaka dan tidak takut atas amal perbuatannya. Mereka adalah hamba-hamba dari keinginan-keinginan nafsunya. Dalam kondisi seperti ini, apakah mereka akan meminta ampunan dan rahmat dari Allah? Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah dalam Al-qur'an berfirman, 'dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat atom pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.' (QS.Az-Zalzalah:8)
Oleh sebab itu, setiap perbuatan yang baik maupun yang buruk maka akan diberi balasannya oleh Allah. Dan ini adalah keadilan Ilahi yang memberikan kadar pembalasan seberat apa yang diperbuat. Allah dalam al-Qur'an berfirman, 'Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.' (QS.Al-Muddatsir:38)
Iblis berkata, "hai manusia bodoh yang terpedaya, jika kalian memperhatikan dengan perantara tertimpanya sebuah kaum dalam melakukan maksiat, Allah memberikan mereka berbagai azab di dunia. Atau sekumpulan orang yang terkena halilintar dan semuanya binasa atau sekelompok orang yang tenggelam karena badai. Sekecil apapun perbuatan tidak akan bisa disembunyikan dihadapan Allah dan balasan setiap amal perbuatan akan diberikan sesuai dengan tempatnya di dunia maupun di akhirat."
Kita manusia adalah seperti diberikan sepetak lahan sawah, jika disana kita menanam bunga, maka kita akan memanem bunga. Tetapi jika kita menanam duri maka yang akan kita dapatkan adalah duri dan api. Oleh sebab itu, agar kita jangan sampai salah jalan dan tidak tersesat, maka jadikanlah Allah sebagai pelindung kita. "Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, dia akan menjadi penolongnya." (QS.At-Thalaq:3)
Sumber dari buku Semalam Bersama Setan.
Oleh Alieh Hamedani.
SYARAT DITERIMANYA IBADAH
syarat diterimanya amal ibadah di sisi Allah adalah adanya keikhlasan dalam amal dan menjauhi perbuatan riya dalam setiap tindakan. Rasulullah bersabda, "tidak seorang hamba pun yang melakukan amal perbuatan selama 40 hari dengan keikhlasan kecuali Allah memancarkan sumber-sumber hikmah dari hatinya yang kemudian keluar dari lisannya."
Ditempat lain Rasul SAW bersabda, "murnikanlah niat kalian dalam beramal. Meskipun sedikit, keikhlasan itu akan mencukupimu."
Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, "janganlah kalian terlalu memperhatikan persyaratan dalam amal, tetapi perhatikan syarat sampai ke derajat diterimanya amal tersebut."
Jelas, bahwa sebuah ibadah dengan menghadirkan hati kepada Allah memiliki nilai yang tidak terkena kotoran-kotoran iblis. Dan ibadah seperti ini tidak tercemari oleh bau busuk iblis. Dengan kesucian dan kebersihan, amal itu akan sampai di sisi Allah SWT.
Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, "beruntunglah seseorang yang ikhlas dalam beribadah, berdoa kepada Allah, dan hatinya tidak terpengaruh atas apa-apa yang dilihat kedua matanya, dia tidak lupa mengingat Allah dan dengan kedua telinganya dia mendengar, dia tidak bersedih karena apa-apa yang telah ia berikan kepada orang lain."
Setiap orang yang memperhatikan dengan baik perkataan Imam Ali ini, pasti akan mendapakan jalan kebahagiaan dan kebenaran serta mengokohkan jembatan penghubung dirinya dengan Allah, dari hati hingga Arsy Ilahi.
IBLIS DAN BALA TENTARANYA ADALAH KUDA-KUDA LIAR.
Dosa-dosa seperti halnya kuda-kuda liar yang tidak bisa diam dan yang dapat menjatuhkan manusia ke jurang yang dalam. Imam Ali as berkata, "ketahuilah, dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan bagaikan kuda-kuda liar. Jika ada yang menunggangi dan menarik tali kendalinya, maka kuda-kuda itu akan menjatuhkan penunggangnya kedalam neraka." (Kitab Nahjul Balaghoh, khotbah no 16)
Menunggangi kuda liar sangat berbahaya sekali. Jika kuda tersebut tidak memiliki tali kendali, tentu lebih berbahaya lagi dan tanpa diragukan penunggangnya bakal terjatuh. Iblis dan bala tentaranya adalah kuda-kuda liar. Kita terkadang menaiki kuda liar tersebut sehingga kita terjatuh dalam jurang kesalahan. Dan dengan cambuk riya dalam amal perbuatan, kuda ini semakin terperosok kedasar jurang.
Iblis berkata, "kamu boleh mengistilahkan segala sesuatu sesukamu. Aku hanya mengejar sebuah tujuan, yang kadang-kadang kamu sendiri lebih dahulu mencapainya daripada aku. Terkadang aku terheran-heran atas perbuatan manusia. Sebab, kalian manusia telah menyalakan api neraka di dunia dengan melakukan perbuatan buruk sebelum aku menyalakannya di akhirat. Manusia seperti ini bakal menjadi penghuni neraka. Di alam itu dia akan terbakar, begitu pula sebagian mereka telah terbakar api di alam ini. Ketika menyaksikan orang seperti ini, kalian akan terheran-heran dengan tindakannya."
Kalian menyebut manusia-manusia sesat seperti ini sebagai pribadi yang tidak memperhatikan perkataan para rasul, kekasih Allah, para imam suci, dan ayat al-Qur'an serta mengikuti perintah seta yang terkutuk. Kamu akan terperangah atas dosa dan azab yang menimpa mereka.
Sumber dari buku Semalam Bersama Setan.
Oleh Alieh Hamedani.
Ditempat lain Rasul SAW bersabda, "murnikanlah niat kalian dalam beramal. Meskipun sedikit, keikhlasan itu akan mencukupimu."
Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, "janganlah kalian terlalu memperhatikan persyaratan dalam amal, tetapi perhatikan syarat sampai ke derajat diterimanya amal tersebut."
Jelas, bahwa sebuah ibadah dengan menghadirkan hati kepada Allah memiliki nilai yang tidak terkena kotoran-kotoran iblis. Dan ibadah seperti ini tidak tercemari oleh bau busuk iblis. Dengan kesucian dan kebersihan, amal itu akan sampai di sisi Allah SWT.
Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, "beruntunglah seseorang yang ikhlas dalam beribadah, berdoa kepada Allah, dan hatinya tidak terpengaruh atas apa-apa yang dilihat kedua matanya, dia tidak lupa mengingat Allah dan dengan kedua telinganya dia mendengar, dia tidak bersedih karena apa-apa yang telah ia berikan kepada orang lain."
Setiap orang yang memperhatikan dengan baik perkataan Imam Ali ini, pasti akan mendapakan jalan kebahagiaan dan kebenaran serta mengokohkan jembatan penghubung dirinya dengan Allah, dari hati hingga Arsy Ilahi.
IBLIS DAN BALA TENTARANYA ADALAH KUDA-KUDA LIAR.
Dosa-dosa seperti halnya kuda-kuda liar yang tidak bisa diam dan yang dapat menjatuhkan manusia ke jurang yang dalam. Imam Ali as berkata, "ketahuilah, dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan bagaikan kuda-kuda liar. Jika ada yang menunggangi dan menarik tali kendalinya, maka kuda-kuda itu akan menjatuhkan penunggangnya kedalam neraka." (Kitab Nahjul Balaghoh, khotbah no 16)
Menunggangi kuda liar sangat berbahaya sekali. Jika kuda tersebut tidak memiliki tali kendali, tentu lebih berbahaya lagi dan tanpa diragukan penunggangnya bakal terjatuh. Iblis dan bala tentaranya adalah kuda-kuda liar. Kita terkadang menaiki kuda liar tersebut sehingga kita terjatuh dalam jurang kesalahan. Dan dengan cambuk riya dalam amal perbuatan, kuda ini semakin terperosok kedasar jurang.
Iblis berkata, "kamu boleh mengistilahkan segala sesuatu sesukamu. Aku hanya mengejar sebuah tujuan, yang kadang-kadang kamu sendiri lebih dahulu mencapainya daripada aku. Terkadang aku terheran-heran atas perbuatan manusia. Sebab, kalian manusia telah menyalakan api neraka di dunia dengan melakukan perbuatan buruk sebelum aku menyalakannya di akhirat. Manusia seperti ini bakal menjadi penghuni neraka. Di alam itu dia akan terbakar, begitu pula sebagian mereka telah terbakar api di alam ini. Ketika menyaksikan orang seperti ini, kalian akan terheran-heran dengan tindakannya."
Kalian menyebut manusia-manusia sesat seperti ini sebagai pribadi yang tidak memperhatikan perkataan para rasul, kekasih Allah, para imam suci, dan ayat al-Qur'an serta mengikuti perintah seta yang terkutuk. Kamu akan terperangah atas dosa dan azab yang menimpa mereka.
Sumber dari buku Semalam Bersama Setan.
Oleh Alieh Hamedani.
IKHLAS DALAM PERBUATAN
Jika kita sibuk berperang melawan setan atau dengan kata lain kita membuat perhitungan dengannya, maka setan akan lebih bersemangat terhadap kita. Secara perlahan setan akan merusak akidah kita. Oleh sebab itu, kita harus ikhlas dalam amal perbuatan dan menghadirkan hati sehingga setan menjadi putus asa dan dia tidak lagi mendekati kita. Ikhlas dalam amal perbuatan adalah memurnikan niat dan tujuan dari selain Allah.
Niat kita tertuju sepenuhnya untuk Allah. Dengan demikian, ibadah kita selalu dilingkupi dengan keikhlasan. Sebaik-baik niat dalam perbuatan adalah kita tidak untuk mencari keuntungan dunia dan akhirat. Ibadah yang kita lakukan demi mencapai surga dan tidak diniatkan untuk mendapatkan keindahan-keindahan duniawi. Tetapi niat hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah. Untuk mencapai kepada tingkatan ini sangat susah, kecuali kita meninggalkan semua keinginan-keinginan hawa nafsu.
Kita akan seperti berjalan diatas angin, jika hati kita tidak selalu berdzikir, dan mengetahui sifat dan perbuatan Allah SWT. Imam Shadiq as berkata, "orang yang beribadah ada tiga golongan. Satu golongan beribadah kepada Allah, karena takut kepada Azab Allah (neraka), ibadah seperti ini adalah ibadahnya seorang budak. Satu golongan lain beribadah kepada Allah karena mencari pahala dan balasan, ini adalah ibadah para pedagang. Sekelompok golongan lain beribadah kepada Allah karena cinta kepada Allah dan ini adalah ibadahnya orag-orang yang merdeka dan sebaik-baiknya ibadah."
Jika kita secara ikhlas beribadah kepada Allah, sehingga Allah menghantarkan kita sampai kepada rahmat-Nya dan memiliki cinta yang sebenarnya kepada Allah, kita akan mendapatkan kesempurnaan-kesempurnaan maknawi. Setelah itu kemanapun kita memandang, kita tidak akan melihat kecuali Allah dan apa saja yang ada hanya Zat Mutlaq Allah SWT.
HILANGNYA IBADAH TIGA PULUH TAHUN.
Suatu hari seseorang mengqadha ibadahnya selama 30 tahun. Ketika seseorang menanyakan alasannya, orang tersebut menjawab, "Aku selalu mengerjakan shalatku di barisan pertama. Suatu hari karena suatu alasan aku terlambat sampai di mesjid, dan di barisan depan sudah tidak ada tempat lagi, maka aku shalat di barisan kedua. Dalam diriku ada rasa malu karena terlambat datang ke mesjid, karena orang-orang melihatku berada di barisan kedua. Dari situ aku baru sadar, bahwa selama 30 tahun ini aku berada di barisan pertama masjid, hanya untuk dilihat oleh orang lain dan mendapatkan pujian dari mereka. Aku merasa senang atas hal itu tanpa sadar. Tetapi sekarang setelah tabir hati terbuka dan aku mengetahui niat dari amalku tersebut, maka wajib bagiku untuk mengqadha ibadahku."
Sumber dari buku Semalam Bersama Setan.
Oleh Alieh Hamedani.
Niat kita tertuju sepenuhnya untuk Allah. Dengan demikian, ibadah kita selalu dilingkupi dengan keikhlasan. Sebaik-baik niat dalam perbuatan adalah kita tidak untuk mencari keuntungan dunia dan akhirat. Ibadah yang kita lakukan demi mencapai surga dan tidak diniatkan untuk mendapatkan keindahan-keindahan duniawi. Tetapi niat hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah. Untuk mencapai kepada tingkatan ini sangat susah, kecuali kita meninggalkan semua keinginan-keinginan hawa nafsu.
Kita akan seperti berjalan diatas angin, jika hati kita tidak selalu berdzikir, dan mengetahui sifat dan perbuatan Allah SWT. Imam Shadiq as berkata, "orang yang beribadah ada tiga golongan. Satu golongan beribadah kepada Allah, karena takut kepada Azab Allah (neraka), ibadah seperti ini adalah ibadahnya seorang budak. Satu golongan lain beribadah kepada Allah karena mencari pahala dan balasan, ini adalah ibadah para pedagang. Sekelompok golongan lain beribadah kepada Allah karena cinta kepada Allah dan ini adalah ibadahnya orag-orang yang merdeka dan sebaik-baiknya ibadah."
Jika kita secara ikhlas beribadah kepada Allah, sehingga Allah menghantarkan kita sampai kepada rahmat-Nya dan memiliki cinta yang sebenarnya kepada Allah, kita akan mendapatkan kesempurnaan-kesempurnaan maknawi. Setelah itu kemanapun kita memandang, kita tidak akan melihat kecuali Allah dan apa saja yang ada hanya Zat Mutlaq Allah SWT.
HILANGNYA IBADAH TIGA PULUH TAHUN.
Suatu hari seseorang mengqadha ibadahnya selama 30 tahun. Ketika seseorang menanyakan alasannya, orang tersebut menjawab, "Aku selalu mengerjakan shalatku di barisan pertama. Suatu hari karena suatu alasan aku terlambat sampai di mesjid, dan di barisan depan sudah tidak ada tempat lagi, maka aku shalat di barisan kedua. Dalam diriku ada rasa malu karena terlambat datang ke mesjid, karena orang-orang melihatku berada di barisan kedua. Dari situ aku baru sadar, bahwa selama 30 tahun ini aku berada di barisan pertama masjid, hanya untuk dilihat oleh orang lain dan mendapatkan pujian dari mereka. Aku merasa senang atas hal itu tanpa sadar. Tetapi sekarang setelah tabir hati terbuka dan aku mengetahui niat dari amalku tersebut, maka wajib bagiku untuk mengqadha ibadahku."
Sumber dari buku Semalam Bersama Setan.
Oleh Alieh Hamedani.
Langganan:
Postingan (Atom)