Kedamaian dan kebahagiaan seseorang
terletak dalam jiwa manusia masing-masing,yang tidak seorangpun
mengetahui akan keadaan jiwa,sebab urusan jiwa ada pada Allah SWT.
Sebagaimana firman Allah :Dan mereka akan bertanya kepadamu tentang roh.
Katakanlah,soal roh adalah urusan tuhanku. (QS.Al-Isra:85)
Maka,untuk mencapai kedamaian dan kebahagiaan hati,manusia harus kembali
kepada Allah,melalui beberapa jalan,diantaranya adalah :
1). Takwa kepada Allah.
Kata taqwa asal maknanya adalah mengambil tindakan panjangan dan memelihara diri dari sesuatu yang mengganggu dan memudharatkan.
Menurut syarak,bahwa taqwa berarti menjaga dan memelihara diri dari
siksa dan murka Allah dengan jalan melaksanakan perintah-perintahnya dan
menjauhi larangannya serta
menjauhi perbuatan maksiat.
Imam Ghazali menerangkan bahwa perkataan taqwa adalah berasal dari kata
wiqayah yang dapat diartikan dengan pelindung atau pemelihara,yakni
terpelihara dari kejahatan,
karena adanya keinginan yang kuat untuk meninggalkan kejahatan itu.
Abu Darda menyatakan bahwa taqwa seseorang dikatakan sempurna apabila
orang tersebut telah menjaga diri dari perbuatan dosa walaupun seberat
biji sawi atau sekecil atom
sekalipun,bahkan bersedia meninggalkan yang subhat,yaitu sesuatu yang
kehalalannya masih diragukan karena takut tergelincir kepada yang
haram,dengan demikian terbentuk
lah benteng yang kokoh diantara dirinya dengan barang haram dan
perbuatan yang dimurkai Allah SWT. Sebagaimana disinyalir dalam
al-qur'an :
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat atom sekalipun,niscaya ia
akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa yang melakukan kejahatan
seberat atom sekalipun,
niscaya ia akan melihat (balasan)nya juga". (QS.As-Zalzalah:7-8)
Selanjutnya Abu Darda memperingatkan agar tidak seorang pun meremehkan
dan menganggap enteng perbuatan yang baik sekalipun kecil. Demikian juga
hendaknya manusia menjauhi
perbuatan jahat,sekalipun tampaknya tidak berarti.
Khalifah umar bin abdul aziz yang dianggap sebagai khalifah kelima
diantara khulafaur Razyidin mengatakan,bahwa puasa pada siang
hari,berjaga untuk shalat dan berzikir
sepanjang malam atau mengerjakan keduanya (siang dan malam) belum dapat
dikatakan taqwa yang sempurna. Taqwa kepada Allah berarti meninggalkan
segala yang diharamkan
dan menunaikan segala yang diwajibkan. Barangsiapa yang dikarunia
kemampuan berbuat baik setelah taqwa kepada Allah,maka kebaikannya itu
merupakan tambahan kebaikan.
Thalaq bin Hubaib menerangkan,bahwa taqwa berarti beramal karena taat
kepada Allah,patuh pada pimpinan dan bimbingannya,mengharap ridhanya dan
meninggalkan perbuatan
durhaka kepadanya.
Musa bin A'yun menerangkan,bahwa orang yang taqwa berarti telah
membersihkan diri dari bermacam-macam subhat,karena takut jatuh kepada
yang haram.
Demikianlah arti taqwa menurut orang-orang yang berilmu,semoga kita
termasuk orang-orang yang bertaqwa kepada Allah sehingga kita memperoleh
kedamaian yang hakiki,di
dunia dan di akhirat.
2). Tawadlu.
"Dari Iyald bin himar ra berkata,Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya
Allah SWT memberi wahyu kepadaku agar kalian saling merendahkan diri
sehingga seseorang tidak
melampaui batas terhadap orang lain dan seseorang tidak berbangga atas orang lain".(HR.Muslim)
Para ulama tasawuf membuat definisi tawadlu sebagai berikut :
Seseorang wara' ahli tasawuf,angkatan tabi'ut tabi'in fudlail bin 'iyadl
mengatakan bahwa orang yang tawadlu ialah orang yang tunduk dan taat
melaksanakan yang hak serta
mau menerima kebenaran dari siapa saja.
Al-junaid seorang wara' ahli tasawuf seangkatan dengan fudlail bin
'iyadl mengatakan bahwa tawadlu ialah membusungkan dada tapi lemah
lembut tanda hormat.
Al harawi berkata bahwa tawadlu ialah bersungguh-sungguh mencapai yang hak.
Ibnu taimiyah menerangkan bahwa tawadlu ialah menunaikan segala yang hak
bersungguh-sungguh,taat menghambakan diri kepada Allah sehingga
benar-benar mengabdi kepada
Allah dan tanpa menganggap dirinya tinggi.
Tawadlu ialah menerima yang hak (benar) dan menolak kemungkaran.
Rasulullah adalah contoh yang sangat baik bagi kita dalam hal
tawadlu,beliau adalah
makhluk pilihan dan rahmat untuk seluruh alam,tidak pernah berbesar mulut,sopan,beradab mulia,dan lemah lembut sesama muslim.
Para ulama membagi tawadlu menjadi tiga hal,yaitu :
1. Tawadlu kepada agama,yaitu sikap menentang keterangan-keterangan yang dinukil dari Allah dan Rasulnya serta tidak mencela.
2. Tawadlu kepada sesama muslim,yaitu sikap rela menjadikan sesama
muslim sebagai saudaranya,selama Allah menganggap orang tersebut sebagai
hambanya.
3. Tawadlu kepada yang hak yang datang dari Allah semata serta
tunduk,taat dan patuh kepada hukum-hukumnya dan tidak membangkang sama
sekali.
Sikap tawadlu ini adalah suatu sikap mental orang sufi yang selalu
meniru dan mencontoh sikap Rasulullah SAW. Rasulullah sekalipun
kedudukannya sebagai kepala negara,
sebagai panglima perang dan sebagai pemimpin umat,namun dalam tindak
tanduk dalam pergaulan beliau dengan orang lain,tidaklah berbeda dengan
orang banyak.
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik diterangkan
bhawa Rasulullah selalu menziarahi orang sakit,mengiringi
jenazah,menunggu keledai,memenuhi undangan
kaum budak.
Beliau memberi salam kepada anak-anak bersenda gurau dengan
mereka,mengobrol dan mendukungnya,beramah tamah sehingga mereka merasa
manja kepada beliau.
Didalam rummah tangganya,beliau bertindak sebagai orang biasa,memberi
makan binatang ternaknya,merawatnya dan memasukkannya ke kandangnya.
Beliau menyapu dan membersihkan
rumah,memeras sendiri susu kambingnya,beliau makan bersama-sama dengan
pembantu rumahnya,menggiling gandum bergiliran dengan pembantunya.
Beliau berbelanja sendiri ke
pasar dan membawa belanjanya,menjabat orang kaya atau miskin,orang
dewasa atau anak kecil malah beliau sering memulai salam kepada sesama
muslim yang dijumpainya.
Beliau bekerja bersama-sama sahabatnya membuat parit perlindungan,beliau
ikut mengamalkan kayu bakar untuk masak,ikut beternak dan sebagainya.
Beliau tidak mau dibeda-bedakan,dengan sabdanya sesungguhnya Allah tidak
mau melihat hambanya dibeda-bedakan diantara sesama kawannya.
Ketika ada tamu yang datang kerumahnya,beliau sendiri yang melayani dan
meladeni tamunya,meskipun para sahabatnya memohon unutk tidak
mengerjakannya,bahkan beliau
bersabda,aku ingin memuliakan sendiri".
Dalam pertemuan yang diadakan,beliau duduk ditempat kosong,tidak
mengambil tempat yang perlu di istimewakan,beliau bersabda,wahai
manusia,janganlah kamu mengangkat aku
melebihi batas kedudukanku. Allah telah mengambil aku sebagai Nabi dan Rasul-Nya.
Apabila beliau berjalan bersama para sahabatnya,beliau sering dibelakang
mereka,tidak menghendaki diiringkan. Beliau bersabda,"Biarlah
dibelakangku malaikat yang mengikuti".
Kadang-kadang beliau berjalan kaki,dan kadang-kadang berkendaraan unta,keledai Bighal atau berjalan kaki tanpa sepatu.
Beliau tidak pernah menolak dihamparkan tikar untuk duduk atau untuk
tidur. Alas tidur beliau terbuat dari daun kurma yang tidak berseprai.
Beliau selalu memenuhi undangan
orang dari berbagai warna kulit,tidak pernah menolak atau terhina
diundang orang miskin dan papa. Beliau selalu membal as hadiah yang
diterimanya,sebagai tanda terima kasih
meskipun hanya terdiri atas seteguk air atau sepaha kelinci. Beliau suka
bergaul dengan siapa saja dan duduk bersama tanpa melihat kedudukan
orang itu,baik fakir maupun
miskin,orang lemah atau kuat,beliau memakai pakaian biasa seperti yang
dipakai sahabatnya. Apabila bercanda beliau selalu menggunakan kata-kata
benar dan tertawa dengan
senyum. Beliau dengan teliti mendengarkan pengaduan kaumnya dan
menyelesaikan perkara mereka. Beliau sangat penyayang kepada setiap
orang muslimm dan sangat lemah lembut.
Sikap seperti inilah yang ditiru oleh para sahabat yang memimpin umat pada masa lampau,dan menjadi contoh bagi orang sufi.
3). Mengingat Allah.
"Aku sesuai dengan dugaan hamba-Ku kepada-Ku,dan aku bersama dengannya
ketika ia berdzikir kepada-Ku. Jika ia dzikir kepada-Ku didalam
hatinya,akupun ingat pula kepadanya
didalam hati-Ku. Dan jika ingat kepadaku dalam khalayak ramai,niscaya
akupun ingat kepadanya dalam lingkungan khalayak ramai yang lebih baik.
Dan jika ia mendekati kepada-Ku
sejengkal,akupun mendekat pula sehasta. Dan jika ia mendekat kepadaku
sehasta,niscaya aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang
kepadaku berjalan,maka aku mendatanginya
sambil lari". (HR.Tirmidzi)
Yang dimaksud Dzikrullah (mengingat Allah) ialah
mengagungkan-Nya,mensucikan-Nya,mengucapkan "Allah,Allah",mengucapkan
tasbih "Subhanallah,subhanallah" dan melakukan pujan
kepada-Nya dengan segala macam bentuk dan cara manfaat dzikrullah ini
sangat besar sekali,sebagaimana firman Allah SWT dalam hadist Qudsi :
"Wahai anak adam! Apabila kamu ingat kepadaku dalam keadaan sunyi
sepi,aku akan ingat pula kepadamu dalam keadaan sunyi sepi. Dan apabila
kamu ingat kepadaku ditengah khalayak
ramai,aku akan ingat pula kepadamu ditengah khalayak ramai yang lebih baik dari tempat kamu ingat kepadaku". (Ibnu Abbas ra)
Dzikir menurut orang sufi seperti yang dikemukakan oleh ibnu Athaillah
ialah "Menyingkirkan lupa dan lalai dengan selalu ingat hati kepada
Allah " Abu bakar Wasiti pernah
ditanya tentang dzikir beliau menjawab,"Keluar dari lapangan lupa dan
masuk ke lapangan musyahadah,karena saking takut dan dorong oleh
cintanya yang mendalam".
Dzikir ini ada 2 cara : 1. Dzikir dengan hati. 2. Dzikir dengan lisan.
Masing-masing dari keduanya terbagi kepada dua,yaitu : 1. Dzikir dalam
arti ingat dari yang tadinya
lupa. 2. Dzikir dalam arti kekal ingatannya.
Dzikir kepada Allah dapat dilakukan dengan lisan dan hati.
A). Dzikir dengan lisan berarti menyebut nama-Nya,berulang kali,menyebut
sifat-sifatnya berulang-ulang,atau puji-pujian kepada-Nya untuk dapat
kekal dan senantiasa melakukannya
hendaknya dibiasakan atau dilaksanakan berkali-kali dan berulang kali.
B). Dzikir kepada Allah dengan hati,ialah menghadirkan kebesaran dan
keagungan-Nya didalam diri dan jiwanya,sehingga mendarah daging.
Tak ada yang diingatnya kecuali Allah tak ada nafas yang dihembuskannya
kecuali dengan lafal Allah serta ingat akan kebenaran dan
keagungannya,tak ada nafas yang di hirupnya
kecuali dengan lafal Allah serta ingat akan kebesaran dan keagungan-Nya dalam hati sanubarinya.
Kerjasama antara hati dan lisan dalam hal dzikir kepada Allah sangat
baik sekali,sebab bila seseorang telah disiplin mengamalkan dan
melakukannya dengan sendirinya mengingatkan
menjadi "dzikir a'dl'a",yaitu seluruh anggota badannya akan terpelihara
dari berbuat maksiat karena dzikir kepada Allah. Bagi seseorang yang
hatinya telah bening dan jernih dapat
mengontrol anggota badannya untuk tetap berdisiplin ucapan akan sesuai
dengan perbuatannya,lahiriahnya sesuai dengan hatinya. Akan
tetapi,seringkali dan banyak sekali orang yang
tersesat yang disebabkan mempelajari tasawwuf,karena yang dilakukan
tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW,sehingga masuk ke aliran
kebatinan yang dapat merusak agamanya sendiri.
Dzikrullah yang tidak sejalan dengan sunnah Rasulullah SAW dapat
menyebabkan orang tersesat pada kebatilan. Oleh karena itu,berdzikirlah
kepada Allah sebanyak-banyaknya sesuai
dengan petunjuk-petunjuk Rasulullah SAW.
Yang dimaksud dzikir dalam keadaan sunyi sepi,yaitu dzikir kepada Allah
disaat menyendiri,baik ditempat yang terpencil atau tidak terlalu
memencilkan diri ke gua-gua di gunung-
gunung atau hutan,kecuali bila diperlukan untuk melakukan uzia
(mengasingkan diri) karena sesuatu hal termasuk dalam arti sunyi
sepi,yaitu melakukan dzikir atau shalat pada waktu
tengah malam atau sepertiga malam yang terakhir.
Adapun yang dimaksud dengan dzikir ditengah khalayak ramai,yaitu dzikir
secara berjamaah,secara berkelompok. Dan kelompok jamaah yang lebih baik
adalah majelis malaikat.
Ibnu athaillah membagi bentuk dzikir kepada tiga macam dzikir jalli,dzikir khafi dan dzikir hakiki.
> Dzikir jalli bagi orang ahli bidayah ialah dzikir lisan,yang berupa
ucapan yang mengandung pujian-pujian syukur kepada nikmat Allah,dzikir
lisan ini cukup hanya mengucapkan
tanpa disertai dengan ingatan hati. Dzikir seperti in banyak disebutkan
didalam ayat-ayat al-qur'an dan sunnah tentang kelebihannya dzikir dalam
hal ini ada yang terikat dengan
waktu dan tempat. Dzikir yang terikat seperti dzikir didalam
shalat,sesudah shalat,pada waktu mengerjakan ibadah haji,sebelum tidur
dan sesudah bangun sebelum makan dan sesudah
makan,dikala naik kenderaan dan turun dari kenderaan,pada waktu pagi dan
tempat dan keadaan seperti pujian-pujian kepada Allah dalam bentuk
kalimat Subhanallah alhamdulillah,
la ilaaha ilaallah,allahu akbar,laa haula walaa quwaata illa billah dan doa-doa yang lain.
> Dzikir khafi dengan menghilangkan rasa kebosanan,dan selalu kekal
musyahadah kepada tuhannya dzikir yang tersempurna adalah dzikir
hakiki,yaitu dzikir seluruh tubuh dan
seluruh anggotanya,yaitu dengan memelihara anggotanya dari yang dilarang
Allah dan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT.
Dzikir memang penting bagi manusia,karena dengan dzikir itu manusia akan
mengenal tuhannya,yang telah menciptakan dirinya sendiri,dan seseorang
akan mengenal dirinya sendiri
dan akan mengetahui kelemahan yang selalu dialaminya. Dalam keadaan
taat,bila manusia dzikir kepada Allah pada saat itu,maka akan lahirlah
suatu keyakinan bahwa ketaatan yang
diperbuatnya adalah merupakan karunia Allah dan dengan taufik-Nya.
Dengan keyakinan ini terhindarlah ia dari sifat ujub,yaitu menyadarkan
ketaatan itu kepada perbuatannya sendiri
dan amalan yang seperti itu merupakan penyakit yang meruntuhkan pahala
dari amal ibadahya. Kalau manusia dalam keadaan maksiat,maka dengan
dzikir kepada Allah,maka akan dapat
membangkitkan kesadarannya untuk menjadi manusia yang mencintai Allah
dan Allah pun mencintainya. Dengan keyakinan itu ia akan sadar bahwa
kemaksiatan adalah sebuah dinding
yang mendinding antara dirinya sendiri dengan tuhannya,dan kemaksiatan
itu pula yang akan menjerumuskan ke jurang kebinasaan. Kalau manusia
dalam keadaan memperoleh nikmat,
baik nikmat itu berupa harta benda,pangkat atau kedudukan serta
kemewahan-kemewahan lainnya dengan dzikir kepada Allah akan menimbulkan
keinginan untuk mensyukuri nikmat itu,
dengan bersyukur kepada nikmat maka nikmat yang ada pada tangannya akan
tetap dan bertambah,sebaliknya kalau manusia itu lupa atau kufur
terhadap nikmat-nikmat akan ditarik
dan menjadi bencana baginya. Kalau ia dalam keadaan menderita,dengan
dzikir kepada Allah,timbullah keyakinan bahwa penderitaan pada
hakekatnya adalah merupakan cobaan,baginya
setiap cobaan akan dihadapi dengan sabar,dengan sikap sabar terhadap
cobaan ini,Allah akan memberi pahala yang berlipat ganda serta
menghindarkan dirinya dari cobaan tadi.
Manfaat dzikir kepada Allah yang bersifat umum adalah untuk :
1). Memperlunakkan hati manusia sehingga hati manusia dapat melihat kebenaran dan bersedia mengikuti dan menerima kebenaran itu.
2). Membangkitkan kesadaran bahwa Allah maha pengatur dan apa yang telah ditetapkan-Nya adalah baik.
3). Meningkatkan mutu yang telah dikerjakan,karena sesuai dengan amal
perbuatan,tidak dinilai oleh Allah dari lahirnya saja,tetapi Allah
menilai dari segi keihklasan hamba-Nya
dalam beramal.
4). Memelihara diri dari godaan setan,karena setan hanya dapat menggoda dan menipu manusia yang lupa kepada Allah.
Dalam al-qur'an banyak sekali ayat menunjukkan dan menyuruh melakukan
dzikrullah yang menerangkan ketinggian orang-orang yang suka melakukan
dzikir kepada Allah,sebagaimana
firman Allah,"Dan ingatlah sebanyak-banyaknya kepada Tuhanmu dan ucapkan tasbih sore dan pagi". (QS.Ali-Imran:41)
"Dan ingatlah kepada tuhanmu didalam hatimu dengan merendahkan diri dan takut". (QS.Al-A'raf:205)
"Dan ingatlah akan tuhanmu apabila kamu sedang lupa"> (QS.Al-Kahfi:24)
"Dan ingatlah nama tuhan kamu dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati". (QS.Al-Muzammil:8)
"Apabila kamu semua telah kembali (selesai wukuf) dari Arafah,ingatlah kepada Allah di Masy'aril Haram". (QS.Al-Baqarah:198)
"Dan dzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan (hari-hari tasyriq)". (QS.Al-Baqarah:203)
"Wahai orang-orang yang beriman dzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya". (QS.Al-Ahzab:41)
"Dan ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu sekalipun mendapat kemenangan". (QS.Al-Jum'at:10)
"Orang-orang yang beriman itu hatinya menjadi tenteram karena dzikir
kepada Allah. Ingatlah dengan dzikir kepada Allah hati menjadi
tenteram". (QS.Ar-Radu:28)
4). Bersyukur kepada Allah.
Seorang ulama berkata,"Barangsiapa yang tidak menghadap kepada Allah
ta'ala dengan kelembutan-kelembutan karunia kebaikan-Nya,niscaya dia
akan dibelenggu dengan berbagai
rantai percobaan dan ujian. Barangsiapa yang tidak bersyukur dengan
segala nikmatnya itu maka ia telah menunjukkan kepada hilangnya
nikmat-nikmat itu. Dan barangsiapa yang
bersyukur dengan nikmat itu,maka ia telah mengikatnya dengan tali nikmat tersebut.
Imam al Qusyairi menukil dari syekh Ali Dahaq mengatakan bahwa
hakekatnya syukur menurut ahli ialah pengetahuan terhadap nikmat yang
telah diberikan kepadanya yang dibuktikan
dengan ketundukannya". Berdasarkan batasan ini kita dapat menarik
kesimpulan bahwa syukur itu ialah mempergunakan nikmat Allah menurut
yang dikehendaki oleh Allah,dalam
istilah populernya bernama "Syukur nikmat". Sedangkan mempergunakan
nikmat Allah tidak pada tempatnya; umpama mata untuk melihat hal-hal
yang haram,mulut untuk berbicara
yang kotor-kotor,memperoleh rezeki untuk berbuat kemaksiatan,bukan dinamakan syukur tetapi bernama kufur nikmat.
Karena itu syukurnya seorang hamba kepada Allah adalah dengan memuji dan
menyebut serta mempergunakan nikmat itu. Kebaikan sesuai dengan maksud
Allah memberikan nikmat itu.
Kebaikan seorang hamba kepada tuhannya ialah ketundukkan dan kepatuhan
terhadap perintah tuhannya,sedangkan kebaikan tuhan kepada hambanya
ialah memberikan nikmat itu dan
memberikan taufiknya. Karena itu dikatakan bahwa syukur hamba yang
sebenarnya ialah menuturkan dengan lidah-lidahnya,mengakui dengan
hatinya akan nikmat tuhannya,dan memperguna
kan nikmat itu sesuai yang dikehendaki oleh tuhannya.
Nikmat yang telah diberikan Allah kepada manusia ada 2 macam,yaitu
nikmatul ijab ialah nikmat ciptaan,artinya ia telah dijadikan dan
diciptakan,yang dahulunya tidak ada. Dan
sesudah ada,Allah mengirimnya pula dengan nikmat imdad,ialah nikmat yang
menyebabkan manusia akan tetap ada,kalau tidak diiringi dengan nikmat
yang kedua ini,ia akan kembali
tidak ada lagi,seperti makanan dan pakaian.
Dalam al-qur'an Allah menegaskan bahwa apabila manusia mensyukuri
nikmat,Allah akan menambah nikmatnya,dan apabila manusia tidak berterima
kasih kepada nikmatnya,Allah akan
mengurangi atau mencabut nikmat itu dari manusia sebagai hukuman
kekufuran. Sebagaimana firman-Nya,"Sesungguhnya jika kamu
bersyukur,pasti kami akan menambah (nikmat)
kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab ku sangat pedih". (QS.Ibrahim:7)
Pada umumnya sifat manusia itu lalai dan tidak menyadari nilai nikmat
yang telah dianugerahkan Allah kepadanya,dan apabila nikmat itu telah
dicabut oleh Allah dari padanya,
maka barulah ia merasakannya serta menyadarinya,seperti nikmmat
kesehatan,sehat jasmani dan rohani,dan lain-lain dalam hidup dan
kehidupan Allah berfiman,"Barangsiapa yang
bersyukur,maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya
sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar,maka sesungguhnya tuhanku maha kaya
lagi maha mulia". (QS.An-Naml:40)
Imam Ghazali berkata,"ketahuilah bahwa syukur itu adalah merupakan maqam
yang tertinggi dari segala maqam,karena bersyukur itu sendiri adalah
dimaksud dan bukan merupakan
alat,karena itu syukur itu terdiri dari 3 perkara,yaitu :
1. Pengetahuan tetap nikmat,bahwa seluruh nikmat dari Allah dan Allah
sendiri yang memberikan nikmat ilmu pengetahuan kepada orang yang
dikehendakinya,adapun yang lainnya
hanya sebagai perantara untuk sampainya nikmat itu.
2. Sikap jiwa yang tetap dan tidak berubah adalah sebagai akibat dari
pengetahuannya,yang mendorong untuk selalu senang dan mencintai yang
memberi nikmat,dalam bentuk
kepatuhannya kepada perintah Allah.
3. Perbuatan yang bukan berbuat maksiat kepada Allah,sikap yang demikian
itu hanya terjadi kalau seseorang telah mengenal kebijaksanaan Allah
dalam menciptakan seluruh
makhluknya. Sikap yang demikian hanya diberikan Allah kepada Hamba-Nya yang dikehendaki-Nya saja.
Dalam kaitannya dengan hal ini,Ibnu Qudamah al Muqadari berkata,"Syukur
itu dapat terjadi dengan lisan,dengan hati,dan dengan perbuatan anggota.
Bersyukur dengan hati ialah
keinginan untuk selalu berbuat kebaikan,yang demikian itu tidak
diberikan setiap orang. Bersyukur dengan lidah ialah melahirkan rasa
terima kasih tadi melalui ucapannya,
dalam bentuk pujian. Dan bersyukur dengan perbuatan ialah mempergunakan
nikmat Allah menurut yang dikehendaki oleh yang memberikan,yaitu menurut
peraturan-peraturan Allah SWT.
Adapun dalil-dalil yang berkaitan dengan syukur adalah :
"Sesungguhnya telah kami berikan hikmah kepada luqman,(yaitu) "bersyukur
kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah) maka
sesungguhnya ia bersyukur untuk
dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang tidak bersyukur,maka sesungguhnya Allah maha kaya lagi maha terpuji" (QS.Luqman:12)
"Sesungguhnya kami telah menunjukkan jalan yang lurus,ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir". (QS.Al-Insan/Ad-Dahr:3)
"Karena itu,ingatlah kamu kepadaku niscaya aku ingat (pula) kepadamu,dan
bersyukurlah kepadaku jangan kamu mengingkari (nikmatku)".
(QS.Al-Baqarah:152)
"Orang yang memberi makan dan yang bersyukur (kepada nikmat Allah) adalah seperti orang puasa dan sabar". (HR.Tirmidzi)
"Orang yang paling bersyukur kepada Allah diantara kamu sekalian adalah
orang yang paling bersyukur kepada manusia". (HR.Thabrani dan Ahmad)
"Barangsiapa yang diberi kebaikan maka hendaklah ia menyebutkannya.
Barangsiapa yang menyebutkannya maka ia telah mensyukurinya,dan
barangsiapa yang menyembunyikannya maka
ia telah kafir". (HR.Thabrani)
5). Mujahadah (Memerangi Hawa Nafsu).
Kata "Mujahadah" berasal dari kata "al-jihad" yaitu mengeluarkan segala
kesungguhan,kekuatan dan kesanggupan pada jalan yang diyakini oleh
manusia bahwa jalan itulah yang
hak dan benar. Namun demikian kata al-jihad itu telah sering dipakai
dalam arti perang sambil,memerangi musuh-musuh,dan membela diri dari
serangan dan gangguan mereka. Seorang
ahli bahasa yang terkenal,Ibnu Atsir menerangkan bahwa al-jihad adalah
memerangi orang kafir dengan sungguh-sungguh menghabiskan daya dan
tenaga dalam menghadapi mereka,baik
dengan perkataan atau perbuatan. Sebagai firman Allah SWT : "Berjihadlah
dijalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka". (QS.At-Taubah:20)
Kata jihad boleh juga diartikan dengan perjuangan dalam mencari rezeki
yang halal,berdasarkan sabda Rasulullah SAW : "Mencari (rezeki) yang
halal itu adalah jihad". (HR.Abu
Nuaim dari Ibnu Umar)
Namun dalam dunia tasawwuf,kata jihad diartikan dengan memerangi hawa
nafsu. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa memerangi hawa nafsu itu
lebih berat dan lebih besar
dari pada memerangi orang kafir. Bahkan Rasulullah SAW setelah kembali
dari peperangan besar bersabda kepada sahabat-sahabatnya ; Kita ini
kembali dari peperangan yang paling
kecil ,menuju peperangan yang lebih besar". Setelah Rasulullah SAW
ditanya sahabat,beliau menjawab bahwa peperangan yang lebih besar itu
adalah memerangi nafsu.
Dalam hadist yang lain Rasulullah SAW menggambarkan bagaimana besarnya
bahaya hawa nafsu. "Bukanlah orang yang gagah berani itu lantaran dia
cepat melompati musuhnya di
dalam pertempuran. Tetapi orang yang berani ialah orang yang bisa menahan dirinya dari kemarahan". (HR.Abu Daud)
Imam Qusyairi menerangkan bahwa mujahid ialah orang-orang yang berusaha
membebaskan diri dari kekangan hawa nafsunya yang menjadi sifat
manusia,dan berusaha mengendalikan
diri serta tidak memperturutkan kehendaknya dalam kebanyakan waktunya.
Imam Ghazali menerangkan arti mujahadah yaitu pengerahan kesungguhan
dalam menyingkirkan nafsu dan syahwat atau menghapuskan sama sekali.
Menurut Prof.Dr.Hamka bahwa perjuangan melawan hawa nafsu,manusia terbagi menjadi tiga bagian :
1. Kalah sama sekali dengan ajakan hawa nafsu,sehingga dirinya ditahan
dan diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri,bahkan hawa nafsunya itu
dijadikan tuhannya. Sebagaimana
firman Allah SWT,"Apakah yang engkau lihat (Muhammad) orang yang mengikuti hawa nafsunya menjadi tuhannya". (QS.Al-Furqan:43)
2. Peperangan antara keduanya berganti-ganti,terkadang kalah dan
menang,jatuh dan tegak. Orang yang begini yang patut disebut mujahid.
Kalau dia mati dalam keadaan menang,
matinya mati syahid. Karena memerangi hawa nafsu itu lebih berat dari
pada melawan musuh yang berkaitan. Kita ini kembali dari peperangan yang
kecil,menuju peperangan yang
lebih besar. Yang dimaksud peperangan yang lebih besar disini adalah
perang melawan hawa nafsu. "Bukankah yang gagah berani itu lantaran
cepat melompati musuhnya dalam
pertempuran,tetapi yang berani ialah orang yang bisa menahan dirinya dari kemarahan". (HR.Abu Daud)
3. Orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya,sehingga ia dapat
menguasai hawa nafsunya,bukan yang dikuasai oleh hawa nafsu,dan tidak
diperbudak oleh hawa nafsunya.
Sabda Rasulullah SAW,"Tidak seorang diantarapun diantara kita yang tidak
bersetan,saya sendiri pun juga bersetan,tetapi sesungguhnya Allah telah
menolong saya menghadapi setan
saya itu sehingga setan dapat saya kalahkan". (HR.Ibnu Jauzi & Ibnu Aburrahman)
Umar bin Khatab juga mendapat derajat yang hampir meningkat ini. Karena
Rasulullah SAW pernah berkata kepada Umar,"Demi tuhan yang menguasai
diriku didalam tangan-Nya,tidaklah
engkau bertemu dengan setan pada suatu jalan,melainkan setan itu
menyingkir kepada jalan lain yang tidak engkau lalui". (HR.Muslim)
Derajat yang ketiga ini adalah derajat Nabi dan Wali,adapun yang disebut
Wali disini adalah Waliur Rahman,yang disebut Allah dalam Al-Qur'an
yang telah taqarrub kepada Allah
dengan amal ibadahnya,bukan wali menurut setengah umat yang telah
diperjual belikan oleh ulama-ulama yang mengubah-ubah pelajaran agama.
Memerangi hawa nafsu adalah suatu
perjuangan yang benar-benar berat,maka kalau manusia kurang berhati-hati
tentu akan tergelincir dan kalah,sehingga akan diperbudak oleh hawa
nafsunya sendiri.
6). Khusyu'.
Khusyu' dalam beribadah syarat mutlak yang tidak boleh
ditinggalkan,karena dengan khusyu' manusia akan dapat langsung
berhubungan dengan Allah. Imam Qusyairi menerangkan
bahwa yang dimaksud dengan khusyu' ialah kepatuhan kepada Allah yang
disertai dengan konsentrasi pikiran,perasaan dan ingatan hanya tertuju
kepada Allah. Oleh karena itu,
bagi orang sufi khusyu' itu merupakan bagian dari rukun beribadah kepada
Allah. Dengan khusyu',orang akan dapat merasakan nikmat ibadah itu.
Karena itu Huzaifah bin Yaman
berkata bahwa yang pertama-tama kamu perhatikan dalam beribadah kepada
Allah ialah khusyu'. Allah berfirman,"Benar-benar beruntung orang-orang
yang beriman,yaitu orang-orang
yang khusyu' dalam shalatnya". (QS.Al-Mukminun:1-2)
Berdasarkan ayat diatas kita tahu bahwa khusyu' adalah merupakan syarat
seorang hamba menghadap tuhannya,dan khusyu' itu letaknya dalam
hati,yaitu beribadah dengan penuh
konsentrasi,hatinya hanya tertuju kepada Allah. Kalau hati manusia sudah
tertuju hanya kepada Allah,maka dengan sendirinya,manusia akan mudah
melaksanakan ibadah dan giat
mengabdi kepada-Nya,tidak menjadi orang yang malas,pesimis,tidak bersemangat. Sebagaimana firman Allah SWT :
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang
demikian itu sungguh berat,kecuali bagi orang yang khusyu'.
(QS.Al-Baqarah:45)
Orang yang khusyu' adalah orang yang giat dan merasa enteng dalam
melakukan ibadah menghadap kepada Allah,karena hatinya selalu tertuju
hanya kepada Allah semata,bukan
kepada lainnya. Dan orang seperti inilah yang memperoleh keberuntungan yang besar,baik di dunia maupun di akhirat kelak.
7). Tawakkal.
Tawakkal menurut orang sufi,seperti dikatakan oleh Abu Zakaria Anshari
adalah merupakan keteguhan hati dalam menyerahkan urusannya kepada orang
lain,dan keyakinan yang
demikian itu terjadi sesudah timbul rasa percaya kepada orang yang
diserahi urusan tadi,bahwa ia betul-betul mempunyai sifat kasih sayang
terhadap yang memberikan perwakilan,
dan ia dapat membimbing terhadap orang yang memberikan perwakilan.
Imam Ghazali menerangkan tentang tawakkal,"hakekat tawakkal ialah
merupakan keadaan jiwa yang lahir dari tauhid dan lahir pengaruh tauhid
ini dalam perbuatannya". Tawakkal
adalah merupakan suatu sikap mental orang sufi yang merupakan hasil dari
keyakinannya yang bulat kepada Allah. Karena didalam Tauhid ia
diajarkan agar ia meyakini bahwa
Allah ada dengan sendirinya;Allah menciptakan
segala-galanya,pengetahuannya maha luas,kekuasaan dan kebijaksnaannya
maha luas. Karena keyakinan inilah yang mendorong ia
menyerahkan urusannya kepada Allah,hatinya tenang dan tenteram,tidak timbul rasa curiga.
Prof.Dr.Hamka menerangkan bahwa Tawakkal adalah menyerahkann keputusan
segala perkara,ikhtiar dan usaha kepada Allah SWT. Allah yang kuat dan
kuasa,sedangkan kita lemah
dan tidak berdaya. Selanjutnya Hamka menerangkan,"Tidak keluar dari
garisan tawakkal,jika ia berusaha menghindarkan diri dari
kemelaratan,baik yang menyinggung diri,atau
harta benda,anak turunan. Baik kemelaratan yang yakin akan datang,atau
berat fikiran akan datang. Jadi tawakkal itu setelah berusaha dan
ikhtiar.
Kalau kita menghadapi bahaya dari sesama manusia,maka kita harus
sabar,yaitu berani menghadapi untuk mempertahankan kehormatan diri,kalau
mempertahankan diri tidak sanggup,
kita harus mengelak,dan inilah yang disebut tawakkal. Dan kalau bahaya
itu diserahkan saja kepada Allah,tanpa berusaha untuk bersabar dan
mengelak,maka bukan dinamakan
tawakkal,tetapi sia-sia. Kalau ada binatang yang hendak menerkam,ular
akan menggigit,atau anjing gila mengejar,harus kita hadapi dengan
sabar,yaitu mengambil siasat untuk
mengalahkan yang akan membahayai kita jika tidak sanggup,kita harus
mengelak. Kalau kita sabar dan tidak mengelak bukan dinamakan
tawakkal,tetapi suatu perbuatan yang sia-sia.
Untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari,kita harus selalu
berusaha keras untuk mencari rezeki,dengan sekuat tenaga dan harta
benda. Kalau kita telah berusaha keras,
barulah kita berserah diri kepada Allah,karena Allah sendiri yang
membagi rezeki kepada hambanya. "Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada
Allah niscaya Allah akan mencukupi
(keperluan) nya". (QS.Ath-Thalaq:3)
Dari Umar ra berkata,"Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,"Seandainya
kamu tawakkal kepada Allah dengan benar-benar tawakkal niscaya Allah
memberi rezeki kepadamu sebagai
mana Allah memberi rezeki kepada burung,pagi-pagi kosong perutnya dan sore-sore perutnya penuh". (HR.Tirmidzi)
Burung tidak hanya tinggal saja disarangnya,ia pergi pagi-pagi benar
sudah terbang untuk mencari rezeki,dari dahan kedahan,dari ranting
keranting,dari sebidang tanah ke bidang
tanah yang lain,dari sawah kesawah yang lain. Ini adalah sebuah gambaran
agar manusia mengerti bahwa burung itu selalu berusaha mencari
rezeki,jangan bermalas-malasan,dan
setelah berusaha barulah berserah diri kepada Allah.
"Barangsiapa yang senang untuk menjadi orang yang paling kuat diantara
manusia,maka hendaklah ia tawakkal kepada Allah". (Asy-Syihab)
Kalau kita sedang ditimpa suatu penyakit,maka kita tidak boleh
membiarkan saja,kita harus berusaha mencari obatnya. Kalau penyakit itu
kita biarkan saja,tanpa mencari obatnya,
dan kita pasrah kepada Allah,itu bukan tawakkal tetapi bunuh diri.
Bahkan Rasulullah SAW menyuruh kita menjaga diri,sebagaimana
sabdanya,"Larilah dari penyakit kusta,sebagai
sebagai lari dari harimau yang buas". Rasulullah juga menyuruh kita agar
berobat bila ditimpa suatu penyakit,sebagaimana sabdanya :
"Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit,melainkan Allah menurunkan juga obatnya". (HR.Bukhari & Muslim)
Dengan keterangan-keterangan diatas tahulah kita apa sebenarnya yang
dimaksud dengan tawakkal itu,yaitu berserah diri kepada Allah setelah
berusaha dan berikhtiar dengan
sekuat tenaga sekuat fikiran dan sekuat harta benda. Kalau berserah diri
kepada Allah tidak didahului oleh usaha dan ikhtiar,maka bukan
tawakkal,tetapi perbuatan sia-sia
atau bunuh diri.
8). Qana'ah.
Qana'ah ialah terhentinya keinginan terhadap yang sudah diberikan
kepadanya,dan tidak ada lagi keinginan untuk menambah yang sudah ada.
Qana'ah itu mengandung 5 unsur :
1. Menerima dengan rela apa yang ada.
2. Memohon kepada Allah tambahan yang pantas,dan berusaha.
3. Menerima dengan sabar akan takdir Allah.
4. Bertawakkal kepada Allah.
5. Tidak tertarik oleh tipu daya dunia.
Memiliki lima unsur diatas,kita yakin bahwa qana'ah adalah suatu sikap
yang harus dimiliki oleh setiap orang muslim,karena qana'ah dapat
menenangkan hati,bahkan menjadi
suatu modal yang tidak mengenal habis. Rasulullah SAW bersabda,"Qana'ah
itu adalah harta yang tak akan hilang dan simpanan yang tidak akan
lenyap". (HR.Thabrani)
Menurut Abu Zakaria Anshari bahwa qana'ah adalah merasa cukup dengan apa
yang sudah dimiliki,yang sudah dapat memenuhi kepentingannya,baik yang
berupa makanan,pakaian,
atau ya lainnya.
Abu Sulaiman Darani berkata,"qana'ah adalah merupakan sebagian sikap
dari ridha,sebagaimana wara' adalah merupakan sebagian dari sikap hidup
zuhud,qana'ah adalah permulaan
ridha dan wara' adalah permulaan dari zuhud". Orang yang mempunyai sifat
qana'ah telah memagar hartanya apa yang ada dalam tangannya dan tidak
menjalar kepada yang lain.
Sikap qana'ah adalah suatu sikap yang dianut oleh orang sufi,karena
sikap qana'ah mereka akan dapat terhindar dari ajakan nafsu terhadap
dunia dan kemewahannya,dan keinginan
nafsu kepada dunia ini tidak akan pernah puas,bahkan akan membawa
manusia selalu disibukkan dengan urusan dunia saja,sehingga lupa dan
lalai untuk mempersiapkan akhiratnya.
Sikap qana'ah adalah suatu sikap yang bisa mendidik manusia untuk
bersyukur kepada nikmat Allah,dan dengan bersyukur kepada Allah itulah
akhirnya manusia memperbanyak
beribadah kepadanya.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,"Jadilah kamu orang yang wara',dengan
demikian kamu menjadi orang yang lebih banyak beribadah,dan jadilah kamu
orang yang bersikap qana'ah,
maka dengan demikian kamu menjadi manusia yang lebih banyak bersyukur". (HR.Bukhari)
Abu Bakar Al Maraghi berkata,"Orang yang berakal ialah orang yang
mengatur urusan dunianya dengan qana'ah,dan urusan akhiratnya dengan
keinginan yang kuat dan bersegera,
dan urusan agamanya dengan ilmu pengetahuan dan ijtihad".
Muhammad bin Turmudzi berkata,"Qana'ah ialah jiwa rasa lapang dengan
rezeki yang diberikan Allah kepadanya,dan hilang rasa tamak terhadap
yang tidak tercapai".
Dalam tasauf modern Prof.Dr.Hamka menerangkan panjang lebar tentang
makna qana'ah,diantaranya beliau menerangkan "Barangsiapa yang telah
memperoleh rezeki,tidak bersuruh
berpangku tangan dan malas karena harta telah ada,sebab demikian itu
bukan qana'ah,namun kemalasan. Kita harus bekerja,karena manusia hidup
didunia untuk bekerja dan
bekerja itu suatu ibadah kepada Allah,maka kita harus yakin bahwa dalam
bekerja itu ada yang kalah dan ada yang menang. Jadi kita bekerja bukan
memandang harta yang telah
ada belum mencukupi,tetapi orang hidup didunia tidak boleh menganggur.
Hal ini sering menimbulkan salah sangka dalam kalangan orang-orang yang
tidak paham rahasia agama. Mereka menuduh agama itu memundurkan hati
bergerak. Agama menyebabkan
manusia malas,sebab mengajak pemeluknya membenci dunia,terima saja yang
ada,terima saja takdir,jangan berikhtiar melepaskan diri.
Anggapan demikian itu adalah salah persangkaan pemeluk agama itu
sendiri. Mereka menyangka bahwa yang disebut qana'ah adalah menerima
saja apa yang ada,sehingga mereka tidak
berikhtiar lagi. Padahal agama menyuruh manusia agar bekerja keras,agar
bisa bershadaqah,infak,membangun mesjid,menuntut ilmu yang tinggi
mungkin;mendidik umat,dan lain-
lain,agar umat Islam tidak menjadi terbelakang.
Sebenarnya agama menyuruh qana'ah itu adalah qana'ah hati,bukan qana'ah
ikhtiar. Sebab itu para sahabat Rasulullah SAW orang-orang yang
kaya-kaya,memperniagakan harta benda
keluar negeri,dan mereka juga termasuk orang-orang yang qana'ah. Adapun
faedah qana'ah amat besar diwaktu harta itu hilang dengan tiba-tiba.
Maksud qana'ah sangat luas. Qana'ah menyuruh manusia untuk betul-betul
percaya akan adanya kekuasaan yang melebihi kekuasaan kita. Qana'ah
menyuruh sabar menerima ketentuan
Ilahi jika ketentuan itu tidak menyenangkan,dan menyuruh manusia unutk
bersyukur jika dipinjami-Nya nikmat. Dalam hal yang demikian manusia
masih tetap disuruh berusaha
keras,dengan kekuatan tenaga dan harta benda,sebab selama manusia masih
hidup,masih diwajibkan berusaha mencari rezeki. Kita bekerja bukan
berarti meminta tambahan yang
telah ada dalam tangan,tetapi kita bekerja,sebab orang hidup itu wajib bekerja,dan inilah maksud qana'ah.
Telah jelas bahwa orang yang mengatakan qana'ah dapat melemahkan hati
dan fikiran adalah salah,karena qana'ah adalah modal yang tidak akan
dapat hilang untuk menghadapi
kehidupan,menimbulkan kesungguhan hidup yang betul-betul untuk mencari
rezeki. Orang yang memiliki sifat qana'ah tidak mengenal takut dan
gentar,tidak mengenal ragu-ragu
dan syak,fikiran kuat,dan bertawakkal kepada Allah.
Dalil-dalil yang berhubungan dengan qana'ah (menerima yang ada) adalah :
"Tidak sesuatu yang melata dibumi,melainkan ditangan Allah rezekinya". (QS.Hud:6)
Dari Abu Hurairah ra berkata,"Nabi SAW bersabda,"Kekayaan itu bukan dari
banyaknya harta benda,tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya
hati". (HR.Bukhari & Muslim)
Abdullah bin Amr ra berkata,Rasulullah SAW bersabda,"Sungguh untung
orang yang masuk Islam dan rezekinya cukup dan merasa cukup dengan
apa-apa yang diberikan Allah kepada
nya". (HR.Muslim)
Memperhatikan dalil-dalil diatas kita tahu,bahwa Islam mendidik
pemeluknya agar qana'ah,tidak boleh rakus,tetapi sekali-kali Islam tidak
menyuruh malas,lalai dan lengah.
Dan sebaliknya Islam mewajibkan agar berusaha,menyuruh umatnya
maju,dengan demikian akan dapat memberi,bukan meminta-minta. Sebab suatu
hal yang perlu diperhatikan,bahwa
tidak mungkin ada kekayaan tanpa berusaha,tidak mungkin berilmu tanpa
mencari ilmu,tidak mungkin mencapai kemuliaan,tanpa ditempuh jalannya.
Ketika Maryam ibu Isa as hendak melahirkan Isa,ditengah padang yang
jauh,disuruh Allah berpegang kepada dahan pohon korma,supaya runduk
kebawah dan mudah buahnya jatuh.
Kalau Allah menyuruh qana'ah hanya menunggu,tentu Maryam akan tetap tinggal lapar dan haus selamanya.
Bahkan pernyataan Allah,bila selesai shalat jum'at,maka bertebaranlah
dimuka bumi akan mencari karunia-Nya,sebagaimana firman Allah :
"Hai orang-orang yang beriman,apabila disuruh untuk menunaikan shalat
pada hari jum'at,maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan
tinggalkanlah jual beli,yang
demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telash
ditunaikan shalat,maka bertebaranlah kamu dimuka bumi,dan carilah
karunia Allah dan ingatlah Allah
banyak-banyak supaya kamu beruntung". (QS.Al-Jumu'ah:9-10)
Berkaitan dengan ayat ini,Prof.Dr.Hamka menerangkan bahwa Allah tiada
menahan mereka,bila shalat itu selesai,supaya bertekun juga dalam
mesjid. Tetapi pergilah,carilah
kehidupan kembali,rupanya cukup dan lengkap kewajiban yang harus
dipaparkan. Cuma satu saja peringatannya,yaitu mengingat Allah sangat
ketika shalat saja. Walaupun
penjual makanan telah memegang katian dan gantang,orang penjual kain
telah memegang meteran,telah mempermainkan pena dan tinta orang kerja
menulis,namun Allah jangan
dilupakan,dan harus kita ingat selalu dimana saja kamu berada.
Supaya kamu menang,dapat jaya dalam hidup dunia dan akhirat,"Berjalanlah
dalam daratan bumi makanlah rezeki yang telah dianugerahkan".