Kamis, 29 November 2012

BEBERAPA KELALAIAN BERSEDEKAH DALAM ASPEK-ASPEK LAIN

Ada aspek-aspek lain sedekah yang luput dari perhatian sebagai muslim. Diantara aspek itu misalnya ada waktu-waktu tertentu yang baik untuk bersedekah, atau momen dan perbuatan tertentu yang merupakan sedekah tapi tidak disadari oleh sebagian kaum Muslimin.



          1. TIDAK MEMAHAMI MOTIVASI BERSEDEKAH.


Diantara sebab seorang muslim sulit untuk membiasakan diri mengeluarkan sedekah adalah tidak memahami motivasi, tata cara, dan manfaat bersedekah yang diajarkan oleh agama. Diantara sebab para ulama fiqih dan ulama muhadditsin memfatwakan wajibnya seorang muslim mempelajari dan memahami agama adalah, agar umat Islam memiliki motivasi dan dasar agama yang kuat ketika mengaplikasikan nilai-nilai yang diajarkan.



Jika seorang muslim memahami betul nilai-nilai itu maka keikhlasan dalam bersedekah akan muncul dalam hati mereka. Tidak menunda lagi bersedekah, karena sedekah merupakan kebaikan. Bersegeralah, karena sedekah mempunyai keajaiban yang banyak seperti pendapat ulama sebagai berikut.


"Ada 5 keuntungan dalam mengamalkan sedekah. Pertama, menambah harta kekayaan. Kedua, obat penyembuh penyakit. Ketiga, Allah menghilangkan segala bala dari yang melakukannya. Keempat, yang melakukan sedekah akan melintasi siratal mustakim seperti kilat. Kelima, mereka akan masuk surga tanpa dihisab". (HR.Muslim)



Dewasa ini belum banyak umat Islam yang menjadikan sedekah sebagai obat, sebagai penolak bala, dan belum mengharap sedekah mereka sebagai modal kemudahan pada hari kiamat nanti. Perkembangan hari ini, orang bersedekah bergerak dari memenuhi anjuran agama menuju penambahan harta karena sedekah. Ini hal yang positif dan harus ditingkatkan menuju motivasi yang selanjutnya, sehingga semakin tercipta karakter-karakter yang semakin menuju ridha Allah.




          2. SELINGKUH.


Menggauli istri atau melayani suami didalam hadist dikategorikan juga sebagai sedekah. Maka, penyaluran itu jika disalurkan bukan pada tempatnya tidak akan bernilai ibadah, bahkan bernilai dosa disisi Allah. Dalam hal ini menggauli atau melayani pasangan bukan pada tempatnya seperti menggauli istri dari duburnya, atau berfantasi dengan yang lain saat berhubungan, akan menghilangkan nilai ibadah dan tidak bernilai sedekah lagi. Selingkuh dengan wanita lain bagi suami atau dengan lelaki lain bagi istri, akan menghapus status sedekah dan sebaliknya bernilai dosa.



"Salah seorang sahabat Nabi SAW mengatakan kepada Nabi,'Ya Rasulullah! Ahli Ad-Dutsur berdebat tentang pahala, shalat mereka sama seperti shalat kami, mereka berpuasa seperti kami berpuasa dan bersedekah dengan harta yang baik mereka'. Nabi mengatakan,'bukankah Allah telah menentukan apa-apa yang baik kamu sedekahkan? Sesungguhnya dalam setiap tasbih adalah sedekah, takbir, tahmid, tahlil, amar ma'ruf dan nahi munkar adalah sedekah, dan hampir sebagian aspek diri kamu adalah sedekah'. Mereka mengatakan, 'wahai Rasulullah, apakah kalau seseorang sedang bergairah syahwatnya disitu juga ada unsur sedekah?' Rasul mengatakan, 'apa pendapatmu kalau dia menyalurkannya pada jalan yang haram terdapat pembenaran didalamnya? Maka begitu pula kalau dia menyalurkannya pada yang halal, dia mendapat pahala". (HR.Muslim)




          3. TIDAK BERSEDEKAH PADA SAAT GERHANA MATAHARI.


Banyak diantara kita yang lupa memberi sedekah pada saat gerhana matahari terjadi, padahal ini dianjurkan dalam agama dan tuntunan Rasulullah SAW, sebagaimana tertuang dalam hadist,

"Dari Aisyah bahwa dia berkata pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah SAW. Maka Rasul mengajak masyarakat shalat. Beliau melamakan saat berdiri, kemudian melamakan rukuknya, melamakan berdiri keduanya pada rakaat pertama, melamakan rukuk kedua rakaat pertama, baru sujud dan melamakannya, kemudian beliau melakukan hal yang sama pada rakaat kedua. Kemudian Rasul beranjak, sementara matahari sudah terbuka, kemudian beliau berkhotbah, membaca muqaddimah khotbah, kemudian beliau berkata, 'sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda kekuasaan Allah, tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Jika kamu melihat gerhana maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, shalat gerhana, dan bersedekahlah'. Kemudian Rasul berkata, 'wahai Umat Muhammad, demi Allah tidak ada yang paling bisa mengubah seorang hamba atau umat yang berzina kecuali Allah. Wahai umat Muhammad, demi Allah kalau kalian tahu apa yang saya tahu, pasti kalian hanya tertawa sedikit dan banyak menangis".(HR.Bukhari)



Tidak bersedekah seusai melaksanakan shalat gerhana matahari atau gerhana bulan hukumnya sunah. Tidak bersedekah ketika dua gerhana itu merupakan kelalaian yang harus mulai diperhatikan oleh seorang muslim. Sehingga, semakin sempurna apresiasi seorang hamba kepada Khaliknya.





          4. TIDAK MENJAMU TAMU DENGAN BAIK.


Menjamu tamu merupakan kebajikan sosial yang diperintahkan secara tegas oleh agama. Tetangga adalah orang yang datang bertamu kerumah, baik orang daerah maupun luar daerah, kerabat maupun bukan. Mereka berhak dari kita beberapa hak ketika bertamu kerumah diantaranya kita menjamu mereka, memperlakukan dengan baik, mendengarkan masalahnya, menyuguhi makanan dan minuman, dan lain-lain. Dalam tata cara bertamu atau syariat menjamu tamu, pada hari pertama sampai hari ketiga tuan rumah berkewajiban menjamunya. Namun, lebih dari itu sudah merupakan anjuran saja untuk terus menjamunya atau tidak. Hadist mengatakan lebih dari tiga hari jamuan tuan rumah terhadap tamunya sudah menjadi amalan sedekah baginya. Perhatikan hadist Nabi berikut,

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hormatilah tamu, ditambah anjurannya sehari semalam. Batas bertamu itu hanya tiga hari. Lebih dari itu maka dianggap sedekah, dan tidak boleh tamu berlama-lama disana apalagi sampai membuat salah paham". (HR.Bukhari)



Sebagian kaum muslimin tidak menyadari dan mengetahui bahwa dalam hal menjamu tamupun ada nilai-nilai sedekah. Nilai ini akan terlewatkan jika tidak memahami kaidah dan aturannya.





          5. BERSEDEKAH DILUAR KEMAMPUAN.


Diluar kemampuan artinya bersedekah dengan memaksakan diri sampai memberi mudharat kepada dirinya atau kepada orang lain. Contohnya seperti memaksa diri bersedekah, sementara tidak tahu akan makan apa pada jadwal makan berikutnya. Juga, seperti memaksa diri bersedekah walaupun dengan berutang, mencuri, atau menipu. Ada ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang ini.


"Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baiak diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan".


Al-Qur'an surat Al-Lail ayat 5-11,

"Adapun orang yang memberikan (hartanya dijalan Allah) dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahalaa terbaik, Kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa".



Memaksakan diri untuk bersedekah diluar kemampuan tidak lebih penting dibanding memenuhi kewajiban seseorang terhadap kehidupan dirinya sendiri, seperti ingin bersedekah 2 juta padahal uang yang dia punyai hanya 2 juta atau kurang dari itu. Menyelamatkan diri adalah kewajiban, sementara sedekah hukumnya sunnah. Maka dari itu, dalam ayat diatas disebutkan bersedekah dengan layak. Layak artinya sesuai kemampuan.





          6. BEBERAPA TINDAKAN RINGAN YANG BERNILAI SEDEKAH.


Banyak tindakan yang disebut Raulullah SAW dalam hadistnay, yaitu ketika tindakan tersebut bernilai sedekah sementara banyak kaum muslim tidak mengetahuinya. Diantara tindakan itu adalah (1) membiarkan orangtua, tuli, buta, bisu, penanya alamat yang butuh bantuan sedang ia mampu; (2-6) membaca tasbih, tahmid, takbir, thalil dan istighfar; (7) menyuruh orang berbuat baik; (8-10) membuang duri, tulang, batu dari jalan; (11) membantu orang lemah dengan kekuatannya sendiri; (12) menyetubuhi istri dengan baik.



Bersedekah tidak hanya dengan harta yang berbentuk material, tetapi banyak hal yang bukan materi bisa kita sedekahkan sebagai bentuk loyalitas kita dalam mengamalkan ajaran dan petunjuk Allah melalui Nabinya, Muhammad SAW. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi siapapun untuk mengatakan bahwa saya tidak punya uang atau harta yang akan saya sedekahkan jadi saya tidak perlu bersedekah. Atau, ada orang yang merasa nasibnya malang karena merasa tidak pernah diberi kekayaan agar bisa bersedekah dijalan Allah. Perasaan dan pikiran seperti ini adalah kesalahan dan persepsi yang salah yang direkam dengan sangat rinci oleh Rasulullah dalam hadist beliau.


"Pada setiap hari diwajibkan bagi setiap orang bersedekah untuk dirinya sendiri". Lalu Abu Dzar bertanya,"dimana saya peroleh yang akan saya sedekahkan, padahal kami tidak mempunyai harta?" Jawab Rasulullah SAW, "Diantara pintu-pintu sedekah itu ialah membaca takbir, tasbih, tahmid, tahlil dan istighfar. Demikian juga menyuruh orang berbuat baik dan mencegahnya dari kemungkaran, membuang duri, tulang, batu dari tengah jalan, menuntun orang buta, memperdengarkan orang tuli dan bisu hingga ia mengerti, menunjuki orang yang menanyakan sesuatu yang diperlukan, dengan kekuatan betis membantu orang yang malang, dan dengan kekuatan tangan membantu mengangkat barang orang yang lemah, semua itu merupakan aspek-aspek sedekah dari dirimu untuk dirimu, termasuk sedekah untukmu ketika menyetubuhi istrimu dengan baik". (HR.Ahmad)



Dengan mengetahui hadist diatas, seorang muslim tidak perlu lagi mempunyai perasaan seperti diatas. Informasi dari hadist diatas juga akan memberi pencerahan bahwa banyak hal yang bisa dijadikan lahan sedekah, aspek sedekah. Sehingga dalam setiap gerak dan langkah, kita sudah bisa menghitung-hitung untuk melakukan yang terbaik agar gerak dan langkah itu menjadi nilai ibadah sedekah. Sebaliknya, kalau tidak dilakukan dan diperhatikan akan hilang nilai sedekahnya. Contohnya seperti seorang yang tidak mau menolong nenek-nenek yang mau menyeberang jalan, berarti dia telah melewatkan kesempatan sedekah didepan mata. Padahal, itu adalah sedekah dengan modal gratis. Atau misalnya, pelit senyumman ketika bertemu orang yang ia kenal. Dalam riwayat lain, "senyum adalah sedekah".(HR.Baihaqi)





          7. SETIAP SENDI MANUSIA BERPOTENSI SEDEKAH.


Berikut ini akan kita uraikan potensi-potensi lain yang bernilai sedekah diantaranya : (1) mendamaikan orang yang bertikai; (2) menaikkan barang orang keatas kendaraan; (3) menggunakan kata-kata yang baik; (4) Melangkahkan kaki ke mesjid; (5) Membuat diri bermanfaat; (6) membantu orang yang teraniaya; (7-8) melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar.



Untuk menguatkan pernyataan diatas, segmen ini akan memberi penjelasan bahwa ternyata setiap sendi manusia dan gerak gerik manusia berpotensi untuk dimanfaatkan dijalan sedekah, seperti berbuat adil antara dua orang yang bertikai. Jika tidak, pada saat itu dia telah melewatkan nilai sedekah, walaupun dia telah membantu menyelesaikan masalah mereka. Membantu orang naik ke pelana kudanya dan mengangkatkan barang seseorang juga sedekah, hal yang sangat sederhana dan mudah dilakukan dan didapatkan. Berkata-kata yang baik, menghilangkan duri dari jalan, berjalan ke mesjid untuk berjamaah, semuanya jika dilakukan akan bernilai sedekah. Hal ini yang sering luput dari perhatian dan pemahaman umat Islam. Sementara, orang mungkin merasa kalau hal-hal diatas hanyalah rutinitas yang mengandung pahala kecil saja. Tapi, ternyata dalam hadist Nabi dinyatakan kalau itu bernilai sedekah.



"Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, 'setiap persendian manusia berpotensi sedekah, disetiap hari dimana matahari terbit. Mendamaikan dua orang yang bertikai adalah sedekah, membantu orang menaikkan barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah, menggunakan kata-kata yang baik adalah sedekah, melangkahkan kaki menuju shalat adalah sedekah, membuang duri dari jalan sedekah". (HR.Bukhari)



Aspek ini mendukung aspek diatas bahwa untuk bersedekah sangat mudah dan tidak memerlukan banyak biaya, sehingga tidak ada alasan bagi siapapun untuk tidak bersedekah. Alangkah ruginya orang yang tidak memanfaatkan potensi  itu supaya bernilai sedekah dengan maksimal. Bahkan, tanpa melakukan apapun seseorang bisa bersedekah tehadap dirinya sendiri yaitu dengan menahan diri dari melakukan maksiat atau keburukan.


"Setiap muslim diwajibkan bersedekah". Para sahabat bertanya, "jika dia tidak punya uang apa yang harus disedekahkan"? Nabi menajwab, "lakukanlah dengan tangannya, manfaatkan diri sendiri maka dia telah bersedekah". Mereka bertanya,"jika dia tidak bisa melakukannya atau tidak melakukannya"? Nabi berkata,'maka bantulah orang yang membutuhkan dan teraniaya". Mereka bertanya,"kalau tidak bisa dilakukan"? Jawab Nabi,' maka ber amar ma'ruf (mengajak kepada kebaikan). Kalau tidak, dia harus menahan diri dari kejahatan, dan itupun termasuk sedekah".(HR.Bukhari)





          8. MENYIA-NYIAKAN SEDEKAH KEPADA TAMU.


Tamu adalah orang yang datang kerumah kita dengan sopan. Kita sebagai sahibul bait kita harus menerimanya dengan sopan pula, menghormati dan memuliakannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

"Saya telah diberitahu oleh Jibril bahwa apabila ada tamu memasuki rumah saudara sesama Islamnya, masuklah bersama tamu itu seribu berkah dan seribu rahmat, juga diampuni dosa penghuni rumah itu oleh Allah walaupun dosanya sebanyak buih laut dan sebanyak daun-daun pohon. Ia juga diberi pahala seribu syahid dan untuk tiap-tiap suap yang dimakan oleh tamu dicatat sebagai pahala haji mabrur dan umrah makbul, serta disediakan baginya satu kota di surga. Barangsiapa menghormati seorang tamu, ia seakan-akan menghormati tujuh puluh Nabi".



Sabda Nabi yang lain,"barangsiapa menafkahkan satu dirham untuk tamu, ia seakan menafkahkan seribu dirham dijalan Allah".



Keterangan-keterangan diatas mengindikasikan pentingnya menghormati dan menjamu tamu, memberi rasa nyaman kepada tamu, menanyakan keperluannya, mengajaknya berbicara hal-hal yang positif, memberi nasihat atau saran jika ia membutuhkan, meminjamkan uang jika ia butuh dan kita sedang lapang, menjadi pemandunya jika ia baru dilingkungan kita. Semua hal diatas akan bernilai sedekah jika dilakukan dan tamunya merasa senang atas itu.



Banyak diantara kita yang hanya kuat menjamu tamu selama beberapa jam saja. Selebihnya, kita sudah menganggap cukup dan penjamuan kita pun mengendor. Tidak berdosa, hanya kita melewatkan banyak pahala, peluang berbagai hal seperti doa malaikat selama ada tamu. Padahal Rasulullah bersabda,

"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia memuliakan tamu. Waktu tenggang sehari semalam, batas pertamuan itu 3 hari, lebih dari itu maka dihitung sedekah. Seorang tamu tidak boleh bermalam sampai merepotkan".(HR.Bukhari)



jika tamu tidak betah dirumah kita bagaimana mungkin ia akan bermalam sampai 3 hari. Sementara opsi sedekah baru ada jika lebih dari 3 hari. Oleh sebab itu, jika penjamuan tidak baik maka sama saja kita menghilangkan kesempatan sedekah pada hari ketiga.





          9. MENUNDA TEMPO PEMBAYARAN UTANG PADA ORANG YANG 
             KESULITAN.


Upaya yang paling banyak ditempuh oleh orang jika terhimpit kesulitan finansial adalah dengan berutang, baik berutang ke bank, saudara, teman, bahkan rentenir sekalipun. Orang berutang pastilah karena butuh. Kebutuhan yang mendesak terpenuhi atau tidaknya, terkadang sangat menentukan nasib seseorang. Bahkan menyangkut hidup matinya seseorang.



Diceritakan bahwa ada kejadian yang karena tidak boleh kasbon oleh koperasi kantornya, ibu seorang karyawan tidak tertolong dan meninggal karena tidak sanggup menebus darah yang akan didonorkan.



Pada hadist Rasulullah SAW bersabda,

"Pada malam ketika saya isra', saya melihat dipintu surga tertulis, pahala sedekah 10x lipat dan pahala memberi utang 18x lipat. Lalu, saya bertanya pada Jibril,"mengapa memberi utang lebih utama daripada sedekah"? Jibril menjawab,"karena orang yang minta, meminta sesuatu yang ia miliki, sedang yang meminjam tidak meminta kecuali karena perlu".(HR.Ibnu Majah)



Sulaiman bin Buraidah meriwayatkan dari bapaknya bahwasannya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda,

"Barangsiapa memberi tangguh utang fakir maka ia bersedekah setiap hari seperti yang diutangkan". Setelah itu, aku berkata, "wahai Rasulullah, aku mendengarkan Engkau berkata, "barangsiapa memberi tangguh utang maka ia bersedekah setiap hari seperti yang diutangkan sebelum ia melunasi utangnya". Nabi bersabda,"jika ia ingin melunasi utang lalu ia memberi tangguh padanya maka ia bersedekah setiap hari seperti yang diutangkan".(HR.Ahmad)



Dengan demikian, benar bahwa menangguhkan tempo pembayaran utang adalah sedekah yang Allah hitung dan balas pahalanya. Oleh sebab itu, jangan sia-siakan pertolongan yang ringan itu, tapi pahala dan manfaatnya berlipat-lipat Allah balas.





         10. BERSEDEKAH ATAS NAMA ORANG YANG MENINGGAL.


Banyak orang bertanya bagaimana pahala orang yang bersedekah atas nama orang yang sudah meninggal. Karena, banyak sekali orangtua bersedekah atas nama anaknya yang sudah meninggal. Banyak anak yang bersedekah atas nama orangtuanya yang sudah meninggal. Banyak orang bersedekah atas nama istri atau suami yang sudah meninggal.



"Dari Abu Hurairah, bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi,'Sesungguhnya bapak saya sudah meninggal dan meninggalkan harta dan tidak mewasiatkan apa-apa. Apakah pahala sampai jika aku bersedekah atas namanya? Nabi menjawab,'ya".(HR.Muslim)



Ada cerita yang setidaknya menambah pembuktian kita terhadap hadist diatas. Cerita ini saya kutip dari buku Dahsyatnya Sedekah karangan Akhmad Sangid yang beliau kutip dari kitab 'Usfuriyah, hadist ke 15 sebagai berikut.



Dalam cerita Tsabit Al-Banani, bahwasannya ia berziarah ke beberapa makam pada setiap malam jumat dan bermunajat kepada Allah sampai subuh. Dalam munajatnya, Tsabit Al-Banani tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi bahwa ahli kubur keluar dari kuburan mereka dengan mengenakan pakaian yang abgus-bagus dan wajah yang berseri-seri. Setiap mereka mendapatkan makanan yang beraneka ragam. Diantara mereka ternyata ada seorang pemuda yang berwajah pucat, rambutnya awut-awutan (amburadul), hatinya susah, pakaiannya lusuh, kepalanya tertunduk, matanya mengeluarkan airmata, dan ia tidak mendapatkan makanan seperti yang lainnya. Ahli kubur tersebut kembali ke kubur mereka masing-masing dengan perasaan gembira, sementara si pemuda kembali ke kuburannya dengan perasaan putus asa.



Melihat keadaan pemuda tersebut Tsabit bertanya,"wahai pemuda, sebenarnya siapa kamu diantara mereka? Mereka mendapatkan makanan dan kembali ke kuburan mereka masing-masing dengan penuh bahagia, sedangkan kamu tidak mendapatkan makanan dan kembali ke kuburanmu dnegan putus asa. Keadaanmu memprihatinkan".



Pemuda itu menjawab,"wahai pemimpin orang Islam, sesungguhnya aku adalah orang yang asing diantara mereka. Tidak ada orang yang berbuat kebajikan untukku dan mendoakanku, sedangkan mereka mempunyai anak-anak, kerabat, dan teman yang mau berbuat kebajikan untuk mereka dengan doa, sedekah pada setiap malam jumat yang mana amal kebajiikan dan pahala dari sedekah itu sampai kepada mereka. Sedangkan saya, adalah seorang laki-laki yang akan pergi haji dan saya mempunyai seorang ibu, maka saya dan ibu saya bermaksud untuk berhaji. Ketika kami sampai ditempat ini, hukum Allah terjadi atas diriku yaitu saya meninggal dunia. Maka ibuku menguburkanku ditempat ini, lalu ibuku menikah dengan seorang laki-laki dan ia melupakanku, tidak mendoakan dan bersedekah untukku. Karena itulah, saya berputus asa setiap waktu dan masa".



Mendengar penjelasan dari pemuda tersebut, Tsabit Al-Banani berkata,"wahai pemuda, beritahulah saya dimana tempat ibumu. Saya akan menginformasikan kepada ibumu tentang keadaanmu". Pemuda itu berkata,"ibuku berada didesa begini dan rumah begini, beritahukan pada ibuku. Jika ia tidak percaya maka katakanlah kepadanya, sesungguhnya dikantongmu ada 100 mitsqal warisan dari ayah anakmu, uang itu adalah haknya. Setelah engkau mengatakan hal ini, pasti ibuku akan merasa percaya dengan tanda tersebut".



Setelah itu Tsabit bertemu dengan ibunya, menceritakan apa yang menjadi perihal anaknya dan menceritakan peninggalan bapaknya yang berada dalam kantong bajunya. Setelah ibu pemuda itu mendengar keterangan dari Tsabit, seketika ia pingsan. Setelah sadarkan diri, ia menyerahkan uang 100 mitsqal kepada Tsabit agar ia mewakili untuk bersedekah yang ditujukan untuk anaknya yang mengembara itu. Uang 100 mitsqal tersebut dibawa Tsabit lalu disedekahkan yang pahala dari sedekah tersebut ditujukan kepada anak ibu itu.



Pada malam selanjutnya, Tsabit pergi ke kuburan untuk menziarahi teman-temannya. Dalam ziarah itu, Tsabit tertidur dan bermimpi seperti mimpinya yang pertama. Tsabit melihat pemuda itu sudah mengenakan pakaian yang bagus, dan muka yang berseri-seri serta bahagia dan berkata, "Rahimakumullah kama rahimtani" (mudah-mudahan Allah mengasihimu sebagaimana engkau mengasihiku).



Di kutip dari bukunya "Reza Pahlevi Dalimunthe Lc, M.Ag"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar